Kalau kamu perhatikan, makin banyak pasangan yang ngobrol dengan cara unik. Nada bicaranya dibuat lembut, kata-katanya dipendekin, atau diselipin bunyi-bunyi yang imut. Misalnya, "lagi apa?" jadi "gi apaa?" atau ungkapan rindu yang dibikin bertele-tele. Inilah yang sering disebut 'bahasa bayi' fenomena komunikasi yang lagi tren, terutama di kalangan anak muda.
Scroll media sosial, kamu pasti nemuin contohnya. Entah di TikTok atau Instagram Reels, banyak konten pasangan yang pakai gaya bicara kayak gini. Reaksinya pun beragam. Ada yang senyum-senyum gemas, ada juga yang langsung mengernyit, "Kok kayak ngomong sama anak kecil, sih?" Tapi jangan salah, bagi yang menjalaninya, cara komunikasi ini justru terasa nyaman dan menyenangkan.
Lebih Dari Sekadar Gaya Bicara
Sebenarnya, ini bukan cuma soal bermanja-manja. Bagi banyak pasangan, bahasa bayi adalah bentuk kode pribadi. Ia jadi cara simpel untuk menunjukkan kedekatan dan keintiman tanpa perlu kata-kata yang muluk. Nada yang pelan dan kalimat yang dimanja-manjakan bisa menciptakan suasana hangat, semacam bubble aman berdua.
Ambil contoh, sepulang kerja yang melelahkan. Kadang, energi untuk obrolan panjang sudah habis. Ucapan singkat seperti, "capek banget, say," yang diucapkan dengan nada lirih, justru terasa lebih tulus dan menghibur ketimbang pembicaraan formal. Ia menyampaikan beban, sekaligus meminta perhatian.
Di sisi lain, pengaruh media sosial dan budaya pop nggak bisa dianggap enteng. Apa yang sering dilihat, lambat laun dianggap wajar. Konten-konten yang menampilkan pasangan gemas dan manja sering dibingkai sebagai hubungan ideal. Akhirnya, gaya ini ditiru kadang secara sadar, seringkali nggak.
Artikel Terkait
Ketangguhan yang Keliru: Saat Perempuan Terlalu Terbiasa Menahan Sakit
Apivita Luncurkan Beevine Elixir, Formula Lebah untuk Reboot Kolagen Kulit
Konselor Laktasi: Kunci Keberhasilan ASI Eksklusif di Tengah Tantangan
Haid Terlambat? Jangan Langsung Panik, Bisa Jadi Ini Penyebabnya