Budaya anak muda sekarang juga punya andil. Mengekspresikan perasaan secara gamblang dan serius kadang terasa canggung, bahkan memalukan. Nah, bahasa bayi hadir sebagai solusi. Ia memungkinkan mereka menunjukkan kasih sayang, tanpa merasa "norak" atau terlalu berat.
Nyaman, Tapi Ada Batasannya
Meski terdengar menggemaskan, gaya komunikasi ini nggak cocok untuk semua orang. Bagi sebagian, ia justru terasa mengganggu atau bahkan infantil. Kuncinya adalah kesepakatan dan saling memahami. Selama kedua belah pihak nyaman, ya nggak ada masalah.
Namun begitu, perlu kewaspadaan. Masalah bisa muncul ketika bahasa bayi dipakai di momen yang kurang tepat. Coba bayangkan saat sedang membahas masalah keuangan atau konflik serius. Jika semua dibumbui nada cengeng, pesan pentingnya bisa kabur. Intinya, konteks itu penting.
Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan satu hal: ekspresi cinta itu dinamis. Generasi sekarang lebih terbuka menunjukkan sisi rapuh dan manjanya dalam hubungan. Itu tanda bahwa ikatan yang sehat tidak harus selalu kaku dan penuh formalitas.
Yang terpenting, apapun gaya bicaranya, fondasinya tetaplah komunikasi yang sehat. Selama ada saling pengertian, saling menghargai, dan tahu kapan harus serius, semua bentuk ekspresi kasih sayang bahkan yang sekecil bahasa bayi bisa jadi hal yang valid.
Artikel Terkait
Ketangguhan yang Keliru: Saat Perempuan Terlalu Terbiasa Menahan Sakit
Apivita Luncurkan Beevine Elixir, Formula Lebah untuk Reboot Kolagen Kulit
Konselor Laktasi: Kunci Keberhasilan ASI Eksklusif di Tengah Tantangan
Haid Terlambat? Jangan Langsung Panik, Bisa Jadi Ini Penyebabnya