Budaya anak muda sekarang juga punya andil. Mengekspresikan perasaan secara gamblang dan serius kadang terasa canggung, bahkan memalukan. Nah, bahasa bayi hadir sebagai solusi. Ia memungkinkan mereka menunjukkan kasih sayang, tanpa merasa "norak" atau terlalu berat.
Nyaman, Tapi Ada Batasannya
Meski terdengar menggemaskan, gaya komunikasi ini nggak cocok untuk semua orang. Bagi sebagian, ia justru terasa mengganggu atau bahkan infantil. Kuncinya adalah kesepakatan dan saling memahami. Selama kedua belah pihak nyaman, ya nggak ada masalah.
Namun begitu, perlu kewaspadaan. Masalah bisa muncul ketika bahasa bayi dipakai di momen yang kurang tepat. Coba bayangkan saat sedang membahas masalah keuangan atau konflik serius. Jika semua dibumbui nada cengeng, pesan pentingnya bisa kabur. Intinya, konteks itu penting.
Pada akhirnya, fenomena ini menunjukkan satu hal: ekspresi cinta itu dinamis. Generasi sekarang lebih terbuka menunjukkan sisi rapuh dan manjanya dalam hubungan. Itu tanda bahwa ikatan yang sehat tidak harus selalu kaku dan penuh formalitas.
Yang terpenting, apapun gaya bicaranya, fondasinya tetaplah komunikasi yang sehat. Selama ada saling pengertian, saling menghargai, dan tahu kapan harus serius, semua bentuk ekspresi kasih sayang bahkan yang sekecil bahasa bayi bisa jadi hal yang valid.
Artikel Terkait
Betrand Peto Pakai Kostum Kreatif untuk Bangunkan Ruben Onsu Sahur
Rachel Amanda Ungkap Balsem Jadi Penyelamat Wajib di Tasnya
Doa Hari ke-13 Ramadhan: Mohon Kesucian, Kesabaran, dan Pergaulan dengan Orang Saleh
Ibu Calon Mantu Pingsan Usai Tuding Tamu Undangan Sebagai Perusak Keluarga di Sinetron RCTI