Di Balik Ucapan Selamat Hari Ibu: Sejarah Panjang Perjuangan Perempuan Indonesia

- Senin, 22 Desember 2025 | 17:36 WIB
Di Balik Ucapan Selamat Hari Ibu: Sejarah Panjang Perjuangan Perempuan Indonesia

Tanggal 22 Desember selalu ramai dengan ucapan dan kado. Ya, itu Hari Ibu. Momen di mana kita mengucapkan terima kasih pada ibu, istri, atau perempuan yang telah membesarkan anak. Tapi, tahukah kamu? Makna tanggal ini jauh lebih dalam dari sekadar ucapan kasih sayang di lingkup keluarga.

Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), esensinya justru terletak pada perayaan perjuangan. Jadi, ini bukan cuma soal apresiasi untuk peran domestik seorang ibu.

“22 Desember tidak hanya menjadi ungkapan kasih kepada sosok ibu dalam lingkup keluarga, tetapi juga dimaknai sebagai penghargaan atas peran perempuan Indonesia sebagai penggerak perubahan, penopang kehidupan, dan penjaga nilai-nilai kemanusiaan,”

Begitu bunyi penjelasan KemenPPPA di Instagram mereka suatu hari di akhir Desember.

Lebih Dari Sekadar Mother's Day

Nah, di sisi lain, pemerintah melalui KemenPPPA juga bersikeras. Peringatan ini harus dipahami beda dengan ‘Mother’s Day’ ala negara-negara Barat. Ini adalah ‘Indonesian Women’s Day’ sepenuhnya.

“Sebuah bentuk apresiasi bagi seluruh perempuan Indonesia atas peran, dedikasi, dan kontribusinya bagi keluarga, masyarakat, dan negara,”

Tambahan penjelasan itu menegaskan kembali posisinya.

Akarnya sendiri sudah tua, nyaris seabad umurnya. Semuanya berawal dari sebuah pertemuan bersejarah: Kongres Perempuan Indonesia Pertama, yang digelar tepat pada 22 Desember 1928. Bayangkan, di era itu, para perempuan sudah berani berkumpul dan bersuara lantang.

Wakil Menteri PPPA, Veronica Tan, dalam sebuah video sambutan, membeberkan apa yang diperjuangkan dalam kongres bersejarah itu.

“Perjuangan itu lahir dari keberanian dan keinginan agar perempuan dihormati sebagai perempuan seutuhnya yang berdaya, bahkan sejak dilahirkan,”

Katanya. Mereka waktu itu memperjuangkan hak perempuan dan anak untuk sekolah, menolak perkawinan anak, melawan poligami yang tak adil, serta membela buruh perempuan dan perempuan kepala keluarga.

Intinya, menurut Veronica, Hari Ibu bukan cuma cerita tentang dapur dan kasur. Ini adalah catatan panjang perjuangan untuk hak, martabat, dan kesetaraan kesempatan bagi perempuan di mana saja rumah, kantor, atau ruang publik.

Pandangan senada datang dari Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Nannie Hadi Tjahjanto. Baginya, kongres 1928 itu adalah titik balik. Saat perempuan Indonesia bangkit dan menyadari perannya sebagai subjek, bukan objek, dalam membangun bangsa.

“Hari Ibu ke-97 adalah momentum pengabdian bersama. Ketika perempuan Indonesia sehat, berdaya, dan bermartabat, bangsa ini akan melangkah pasti ke masa depan,”

Demikian penegasan Nannie, seperti dilaporkan kantor berita Antara di hari peringatan.

Jadi, lain kali kita ucapkan Selamat Hari Ibu, ingatlah. Di baliknya ada sejarah panjang, amat panjang, tentang keberanian dan tekad untuk setara.

Komentar