Fakta dari riset itu cukup jelas: sekitar 54% orang tua Gen Z bilang tujuan utama mereka adalah menyiapkan anak untuk kehidupan yang sebenarnya. Artinya, selain dukungan emosional, anak juga diajari soal tanggung jawab, memahami konsekuensi, dan menyelesaikan masalah.
Pendekatannya bagaimana? Cenderung memberi ruang.
Anak dibiarkan mencoba, bahkan kadang gagal, lalu belajar dari sana. Mereka diajak diskusi, dilibatkan dalam keputusan keluarga yang sederhana, dan didorong untuk mengenali kemampuan diri sendiri. Bagi orang tua Gen Z, langkah-langkah seperti ini dianggap krusial untuk membentuk kemandirian dan daya adaptif.
Namun begitu, fokus pada "kesiapan hidup" ini bukan berarti aspek emosional diabaikan. Sama sekali tidak. Justru keseimbangan antara keduanya yang jadi kunci. Anak diharap tumbuh dengan mental tangguh, sekaligus punya bekal keterampilan untuk melalui berbagai perubahan.
Pada akhirnya, tren ini menunjukkan satu hal: orang tua Gen Z sadar betul bahwa dunia nanti akan makin dinamis dan kompleks. Karena itu, peran mereka tidak lagi sekadar melindungi, tapi lebih kepada mempersiapkan.
Artikel Terkait
Malam Pengampunan di 2026: Tanggal dan Amalan Nisfu Syaban
Denada Akui Ressa sebagai Anak Kandung, Mediasi Gagal dan Gugatan Rp7 Miliar Berlanjut
Mimpi Uang Banyak: Firasat Rezeki atau Alarm Batin?
Dokter Ungkap Detik-Detik Terakhir Lula Lahfah di Apartemen Dharmawangsa