Analisis Prospek Saham Tambang Emas ARCI dan BRMS di Tengah Reli Harga Emas Global
Sentimen positif kembali menyelimuti pasar saham tambang emas domestik seiring dengan penguatan harga emas dunia yang bertahan di atas level USD 4.000 per troy ons. Dua emiten yang menjadi sorotan utama adalah PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) dan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), yang saat ini menunjukkan sinyal teknikal dan fundamental yang menjanjikan.
Peluang Teknikal Saham ARCI dan BRMS
Analis pasar modal mengidentifikasi formasi chart yang berpotensi mendorong pembalikan tren pada kedua saham ini. Saham ARCI membentuk pola ascending triangle dengan level support kuat di rentang Rp 1.200-1.240. Konfirmasi breakout dari pola ini berpotensi mengarahkan harga menuju target Rp 1.400.
Sementara itu, BRMS menunjukkan formasi bullish pennant yang akan terkonfirmasi jika berhasil menembus level Rp 1.020. Dengan support utama di Rp 950, target kenaikan berikutnya berada di zona Rp 1.120.
Revisi Proyeksi dan Rekomendasi dari Analis
UOB Kay Hian secara signifikan merevisi target harga ARCI dari sebelumnya Rp 1.280 menjadi Rp 2.050 dengan maintain rekomendasi beli. Kenaikan ini didorong oleh prospek peningkatan kinerja perusahaan seiring dengan tren kenaikan harga emas dunia.
Asumsi harga emas rata-rata juga dinaikkan menjadi USD 3.400 per troy ons untuk tahun 2025 (dari USD 3.200) dan USD 3.800 untuk 2026 (dari USD 3.400). Proyeksi produksi emas Archi turut disesuaikan menjadi 120.000 ons pada 2025 dan 131.000 ons pada 2026, didukung kontribusi tambang Araren.
Untuk BRMS, target harga dinaikkan menjadi Rp 1.080 dari sebelumnya Rp 610, mencerminkan optimisme terhadap pertumbuhan jangka panjang. Perusahaan sedang melakukan ekspansi kapasitas pabrik CIL pertama dari 500 ton per hari menjadi 2.000 ton per hari. Proyek tambang bawah tanah Poboya di Sulawesi Tengah juga berjalan sesuai rencana dan ditargetkan mulai berproduksi pertengahan 2027.
Faktor Pendukung Reli Harga Emas
Penguatan harga emas dunia yang terjadi selama empat hari berturut-turut didorong oleh melemahnya nilai dolar AS dan ekspektasi pembukaan kembali pemerintahan Amerika Serikat. Emas spot (XAU/USD) tercatat menguat 0,2% menjadi USD 4.133,99 per troy ons, mencapai level tertinggi sejak akhir Oktober.
Pelemahan dolar AS memberikan dampak positif bagi logam mulia, sementara pasar juga memantau kemungkinan penurunan suku bunga The Fed bulan depan. Probabilitas pemotongan suku bunga 25 basis points diperkirakan mencapai 68%, meningkat dari 64% pada sesi sebelumnya.
Faktor lain yang mendukung adalah peningkatan kepemilikan di SPDR Gold Trust, ETF emas terbesar dunia, yang naik 0,41% menjadi 1.046,36 metrik ton. Lingkungan suku bunga rendah dan ketidakpastian ekonomi tetap menjadi pendorong utama kinerja emas ke depan.
Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor. Lakukan analisis mendalam dan pertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
Artikel Terkait
Danantara Alokasikan 50% Dana Kelolaan ke Pasar Modal
Pertamina Geothermal Kembangkan Hidrogen Hijau dari Panas Bumi untuk Terminal Tanjung Sekong
Bursa Asia Melemah Ikuti Wall Street, Kecuali Korea Selatan
Harga Emas Antam Turun Rp43.000 per Gram pada Jumat Pagi