MURIANETWORK.COM - Upaya meningkatkan peran perempuan dalam politik Indonesia memerlukan kerja kolektif yang lebih nyata, melampaui sekadar kebijakan afirmasi yang ada saat ini. Hal ini ditegaskan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam sebuah diskusi di Semarang, Jumat (13/2/2026). Meski ada kemajuan, tantangan seperti stigma sosial dan rendahnya keterpilihan perempuan di parlemen menunjukkan jalan yang masih panjang.
Kebijakan Afirmasi Belum Cukup Tanpa Solidaritas
Lestari Moerdijat, yang akrab disapa Rerie, menyoroti bahwa berbagai aturan afirmasi yang telah diterapkan belum mampu menjawab kompleksitas permasalahan di lapangan. Menurutnya, peningkatan peran aktif perempuan di ranah politik tidak bisa hanya mengandalkan regulasi. Diperlukan sebuah gerakan bersama dan dukungan nyata dari seluruh elemen, khususnya solidaritas antarperempuan itu sendiri.
"Diperlukan upaya kolektif semua pihak, seperti perempuan support perempuan, untuk membangun kekuatan mewujudkan peningkatan peran aktif perempuan di bidang politik," ungkapnya.
Stigma Sosial dan Realita Keterpilihan yang Rendah
Legislator dari daerah pemilihan Jawa Tengah ini mengakui, meski harapan itu mulai tampak dengan masuknya sejumlah perempuan ke parlemen, hambatan budaya masih sangat kuat. Di berbagai daerah, menurut pengamatannya, masih berkembang stigma yang melemahkan posisi perempuan, seperti anggapan bahwa mereka lebih emosional dan tidak rasional.
Artikel Terkait
Erick Thohir Apresiasi Performa Timnas Meski Kalah dari Bulgaria di Final FIFA Series
Lelang KPK Raup Rp 10,9 Miliar, Dua HP Bekas Laku Rp 59 Juta Tak Ditebus
Prajurit TNI Gugur dalam Serangan Israel di Lebanon, DPR Desak Langkah Diplomatik
Mantan Guru Depok Diamankan Usai Sebar Brosur Penawaran Jasa Seks di Pamulang