Industri Keramik Indonesia 2025: Proyeksi Pemulihan, Tantangan Impor, & Ekspor Melesat

- Selasa, 11 November 2025 | 21:00 WIB
Industri Keramik Indonesia 2025: Proyeksi Pemulihan, Tantangan Impor, & Ekspor Melesat

Proyeksi Pemulihan Industri Keramik Indonesia Tahun 2025

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) memproyeksikan industri keramik nasional akan mengalami tren pemulihan yang positif pada tahun 2025. Ketua Umum ASAKI, Edy Suyanto, menyampaikan estimasi bahwa tingkat utilisasi produksi keramik domestik berpotensi mencapai sekitar 73 persen di akhir tahun. Angka ini menunjukkan peningkatan yang signifikan jika dibandingkan dengan realisasi utilisasi pada tahun 2024 yang diperkirakan berada di level 66 persen.

Edy Suyanto menjelaskan bahwa peningkatan kinerja industri ini sejalan dengan pola musiman permintaan keramik, yang biasanya mengalami puncaknya pada paruh kedua tahun. Data per November 2025 menunjukkan bahwa kinerja utilisasi produksi nasional dari periode Januari hingga Oktober telah berada di kisaran 72,5 persen. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan capaian pada semester pertama tahun 2025 yang berada di level 71 persen. Pola ini sesuai dengan prediksi ASAKI bahwa puncak permintaan keramik selalu terjadi di semester kedua setiap tahunnya.

Faktor Pendukung dan Tantangan Industri

ASAKI mencatat volume produksi keramik dalam negeri pada periode Januari-Oktober 2025 diperkirakan telah mencapai 392,7 juta meter persegi. Capaian ini merepresentasikan pertumbuhan sekitar 16 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Beberapa faktor kunci yang mendorong pertumbuhan ini antara lain program PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), ketersediaan pembiayaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi kontraktor dan pelaku usaha material bangunan, serta penyaluran dana Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk 350.000 unit rumah. Faktor lain yang turut berkontribusi adalah meningkatnya substitusi produk keramik impor asal China dengan produksi dalam negeri.

Lebih lanjut, Edy menambahkan bahwa tingkat utilisasi produksi nasional sebenarnya berpotensi melonjak lebih tinggi, mencapai 80-85 persen, jika didukung oleh kelancaran pasokan gas industri dan percepatan realisasi program pemerintah dalam membangun 3 juta unit rumah.

Kewaspadaan Terhadap Lonjakan Impor dan Perkembangan Ekspor

Di sisi lain, ASAKI sedang mengumpulkan data dan melakukan pengawasan ketat terhadap lonjakan volume impor keramik dari beberapa negara. Terjadi peningkatan impor yang sangat tajam, yaitu dari India sebesar 120 persen, Vietnam 130 persen, dan Malaysia 170 persen. Lonjakan yang signifikan ini diduga kuat sebagai indikasi awal praktik unfair trade dan transshipment produk keramik yang berasal dari China. Tujuannya diduga untuk menghindari pembayaran bea masuk anti-dumping dan safeguard yang telah diterapkan pemerintah.

Sementara untuk kinerja ekspor, data periode Januari-Juli 2025 menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan sebesar 17 persen. Ekspor keramik Indonesia ke pasar Amerika Serikat bahkan melonjak hingga 170 persen, diikuti oleh Malaysia sebesar 50 persen, dan Filipina sebesar 32 persen. Meski demikian, industri ini masih dihadapkan pada tantangan berupa gangguan pasokan bahan baku utama, seperti clay dan feldspar, terutama yang bersumber dari Jawa Barat pasca pencabutan sejumlah izin usaha pertambangan.

Proyeksi dan Target ke Depan

Dengan mempertimbangkan seluruh tren permintaan dan kondisi terkini, ASAKI memproyeksikan total produksi keramik nasional hingga akhir tahun 2025 dapat mencapai 474,5 juta meter persegi. Angka ini merepresentasikan pertumbuhan sekitar 15 persen dibandingkan total produksi pada tahun 2024 yang sebesar 412 juta meter persegi.

Melangkah ke tahun 2026, Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia menargetkan tingkat utilisasi kapasitas produksi nasional dapat meningkat lebih baik lagi, menjadi 78 hingga 80 persen. Target optimis ini disandarkan pada harapan akan terjadinya perbaikan dalam suplai energi serta implementasi kebijakan proteksi industri domestik yang lebih kuat dan efektif.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar