Bursa saham Asia menguat pada Rabu (15/7/2026) setelah inflasi Amerika Serikat secara tak terduga melambat. Data indeks harga konsumen (CPI) AS turun 0,4 persen pada Juni, menjadi penurunan bulanan pertama sejak pandemi Covid-19. Inflasi inti tahunan tercatat 2,6 persen, lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 2,8 persen.
Kondisi ini mendorong pelaku pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Peluang kenaikan suku bunga pada Juli turun menjadi 16 persen, sekitar setengah dari proyeksi sebelumnya. Analis J.P. Morgan menilai data tersebut sebagai kombinasi ideal bagi pasar saham. "Inflasi lebih rendah di tengah pertumbuhan laba yang tetap positif. Data ini semestinya menghapus kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga pada Juli dan juga meredakan kekhawatiran untuk September," tulis J.P. Morgan dalam risetnya.
Sentimen positif juga datang dari meredanya kenaikan harga minyak setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana pengenaan biaya sebesar 20 persen terhadap kapal yang melintasi Selat Hormuz. Sebelumnya, Trump kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta mengancam akan menyerang pembangkit listrik dan jembatan di negara tersebut pekan depan jika Iran tidak kembali ke meja perundingan.
Di Korea Selatan, indeks KOSPI yang didominasi saham produsen cip melonjak 6 persen pada awal perdagangan. Indeks Nikkei Jepang naik 0,4 persen dan indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang menguat 1,7 persen. Shanghai Composite naik 0,05 persen, Hang Seng Hong Kong mendaki 0,78 persen, ASX 200 Australia terkerek 0,34 persen, dan STI Singapura menguat 0,67 persen.
Di Wall Street, laporan keuangan sejumlah bank besar yang lebih baik dari perkiraan turut menopang sentimen pasar. Indeks Nasdaq ditutup naik 0,9 persen, sedangkan S&P 500 menguat 0,4 persen. Kontrak berjangka indeks saham AS juga bergerak sedikit lebih tinggi pada perdagangan Rabu. Namun, reli saham teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) mulai rapuh setelah saham IBM anjlok 25 persen akibat proyeksi pendapatan yang di bawah ekspektasi analis.
Di pasar mata uang, dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang utama, kecuali yen Jepang yang masih dalam tekanan. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun turun 11 basis poin menjadi 4,19 persen, dari posisi tertinggi dalam 17 bulan yang hampir menyentuh 4,3 persen pada Selasa.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data produk domestik bruto (PDB), produksi industri, dan penjualan ritel China.
Artikel Terkait
Inflasi AS Melambat pada Juni 2026, Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Masih Tinggi
Bursa Asia Menguat, Data Tenaga Kerja AS Redam Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Bursa Asia Variatif di Awal Kuartal Baru, Investor Cermati Sikap The Fed dan Ketegangan AS-Iran
Rupiah Melemah ke Rp17.906 per USD, Tertekan Konflik Timur Tengah dan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed