Rupiah Melemah ke Rp17.906 per USD, Tertekan Konflik Timur Tengah dan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

- Selasa, 30 Juni 2026 | 16:10 WIB
Rupiah Melemah ke Rp17.906 per USD, Tertekan Konflik Timur Tengah dan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed

Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Selasa (30/6/2026). Mata uang Garuda turun 55 poin atau 0,31 persen ke level Rp17.906 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu oleh sejumlah sentimen global dan domestik yang membayangi pasar keuangan.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah masih berasal dari konflik Timur Tengah yang belum mereda. Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Doha masih diliputi ketidakpastian. Perbedaan klaim antara Washington dan Teheran masih menjadi tanda tanya yang menguji gencatan senjata. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, bahkan menyatakan tidak akan ada pertemuan negosiasi di tingkat mana pun dengan pihak AS dalam beberapa hari mendatang.

Ketidakpastian mengenai apakah kedua pihak akan bertemu menyoroti kerapuhan kesepakatan 17 Juni yang bertujuan menghentikan pertempuran. Konflik tersebut telah mengganggu aliran minyak global melalui Selat Hormuz dan menimbulkan tantangan politik bagi Presiden AS Donald Trump menjelang pemilihan kongres November mendatang. Israel belum bergabung dalam pembicaraan perdamaian dan telah menjauhkan diri dari kesepakatan tersebut.

Di sisi lain, keyakinan pasar semakin besar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga setidaknya sekali tahun ini. Sikap hawkish bank sentral AS selama pertemuan Juni, dengan beberapa pembuat kebijakan menyerukan kenaikan suku bunga, turut menekan rupiah. Perhatian pelaku pasar kini beralih ke laporan pasar tenaga kerja AS bulan Juni, khususnya data Nonfarm Payrolls (NFP) yang akan dirilis pada Kamis. Para ekonom memperkirakan ekonomi AS akan menambah 114.000 lapangan kerja, sementara tingkat pengangguran diperkirakan tetap di 4,3 persen. Data tersebut dapat memengaruhi ekspektasi terhadap jalur kebijakan The Fed.

Dari dalam negeri, pasar menunggu data neraca perdagangan Mei. Pada April, defisit transaksi berjalan dan anggaran tercatat melebar. Surplus perdagangan yang menyusut dinilai akan memberikan tekanan terhadap defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) tahun ini. Kondisi tersebut berpotensi memperlemah ketahanan eksternal dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah jika tidak diimbangi oleh masuknya aliran modal asing.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan Indonesia secara kumulatif hingga April hanya USD5,64 miliar. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan periode Januari-April 2025 yang masih di atas USD10 miliar. Penyusutan surplus perdagangan akan berdampak langsung pada pelebaran defisit transaksi berjalan. Pada kuartal I-2026, transaksi berjalan Indonesia sudah mencatat defisit sekitar USD4 miliar.

Inflasi pada Mei juga mendekati batas atas target Bank Indonesia, dipicu oleh kenaikan harga pangan. Secara agregat nasional, stabilitas harga dan konsumsi masih terkendali. Namun, pergerakan inflasi di beberapa daerah menunjukkan alarm, khususnya Sumatera yang mencatatkan tekanan harga relatif lebih tinggi daripada wilayah lain. Ketimpangan inflasi dipicu oleh beberapa faktor, seperti rantai tata niaga pangan domestik yang belum efisien, fluktuasi cuaca setempat, serta pola tanam antar-daerah yang belum terkoordinasi. Kondisi tersebut diperparah oleh ancaman eksternal, seperti kenaikan biaya logistik perkapalan global dan inflasi barang impor.

Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh undang-undang baru yang disebut memberikan kekebalan hukum bagi pembeli Merah Putih dan Patriot Bond yang akan diterbitkan Danantara.

Dari berbagai sentimen di atas, untuk perdagangan besok, mata uang rupiah diproyeksikan fluktuatif namun diperkirakan melemah pada rentang Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags