Bursa saham Asia membuka kuartal baru dengan pergerakan beragam pada Rabu (1/7/2026). Investor mencermati kebuntuan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran, serta mewaspadai potensi intervensi Jepang setelah yen menyentuh level terendah dalam 40 tahun terakhir.
Iran pada Selasa menyatakan tidak akan bertemu dengan utusan utama AS yang telah tiba di kawasan tersebut. Kedua negara masih berselisih mengenai kerangka kesepakatan yang dapat membuka kembali Selat Hormuz sepenuhnya.
Tekanan juga datang dari pasar obligasi setelah imbal hasil surat utang pemerintah AS melonjak. Pasar berjangka mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed menjelang rilis data ketenagakerjaan penting pada Kamis.
Perhatian kini tertuju pada pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam konferensi bank sentral Eropa. Pasar berharap memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan moneter. Namun, Warsh dikenal enggan memberikan panduan ke depan, sehingga pelaku pasar memperkirakan ia akan berhati-hati.
Pasar berjangka menunjukkan peluang 33 persen The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan bulan ini, sementara peluang kenaikan pada September mencapai sekitar 70 persen.
Di tengah ketidakpastian itu, investor masih bertaruh pada musim laporan keuangan yang kuat, terutama di sektor teknologi. Indeks Nikkei Jepang naik 0,29 persen setelah melesat 1 persen, melanjutkan penguatan pasca melonjak 37 persen sepanjang kuartal II-2026. Sentimen positif terhadap teknologi juga mendorong kepercayaan produsen besar Jepang ke level tertinggi sejak 2018, sementara aktivitas manufaktur mencatat kuartal terbaik sejak 2014.
STI Singapura menguat 0,16 persen dan Shanghai Composite naik 0,34 persen. Sebaliknya, KOSPI Korea Selatan melemah 3,07 persen setelah melonjak 68 persen pada kuartal sebelumnya berkat permintaan semikonduktor AI. ASX 200 Australia juga tergelincir 0,43 persen.
Di Eropa, kontrak berjangka EUROSTOXX 50 dan DAX nyaris tak berubah, sementara FTSE futures turun 0,2 persen. Kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq masing-masing melemah 0,1 persen setelah penguatan solid sebelumnya. Jeda ini dinilai wajar setelah Wall Street mencatat kuartal terbaik sejak 2020, dipimpin lonjakan 88 persen pada Philadelphia Semiconductor Index.
"Kinerja historis jelas lebih mendukung investor yang optimistis," ujar Kepala Riset Pepperstone Chris Weston. "Sejak 2008, kontrak berjangka Nasdaq hanya mencatat satu kali penurunan pada Juli." Menurutnya, musim laporan keuangan akan menjadi faktor kunci untuk menentukan apakah ekspektasi laba terus membaik dan alokasi portofolio tetap bergeser ke teknologi.
Bank-bank besar akan memulai musim laporan pada pertengahan Juli. Analis memiliki ekspektasi tinggi terhadap pertumbuhan laba sektor teknologi maupun perusahaan secara keseluruhan. Kinerja laba yang kuat diperlukan untuk mengimbangi daya tarik imbal hasil obligasi yang lebih tinggi serta risiko kenaikan suku bunga. Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun berada di 4,55 persen setelah melonjak hampir 9 basis poin pada Selasa.
Artikel Terkait
Israel Akui Alami Pengeboman Terburuk Sepanjang Sejarah dalam Perang Melawan Iran
IHSG Dibuka Melemah, Rupiah Stagnan di Rp17.957 per Dolar AS
Iran Tegaskan Kedaulatan Atas Selat Hormuz Usai Teken MoU dengan AS
Iran Tolak Tawaran Prancis Bersihkan Ranjau di Selat Hormuz, Sebut Aksi Itu Provokasi