Indonesia membuka peluang ekspor komoditas pertanian utama, seperti kakao dan minyak sawit mentah (CPO), ke Belarus. Peluang ini muncul setelah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bertemu dengan Menteri Pertanian dan Pangan Belarus, Yuri Gorglov, untuk membahas kerja sama perdagangan.
Dalam pertemuan tersebut, Belarus menyampaikan kebutuhan tahunan mereka untuk kakao mencapai 120 ribu ton. Negara itu memiliki industri pengolahan cokelat yang memasok pasar domestik, Eropa Timur, hingga Rusia. Sementara untuk CPO, kebutuhan Belarus tercatat 14 ribu ton per tahun, namun produk Indonesia belum pernah masuk ke pasar tersebut.
“Kami ingin memperluas pasar ekspor komoditas pertanian Indonesia ke Belarus. Hubungan yang semakin erat antara kedua negara harus memberikan manfaat nyata melalui peningkatan perdagangan yang saling menguntungkan,” kata Amran dalam keterangan tertulis, Rabu (1/7).
Selain kakao dan CPO, Amran juga mendorong ekspor kelapa dan teh. Menurutnya, Belarus merupakan mitra potensial sekaligus pintu masuk bagi produk pertanian Indonesia ke kawasan Eropa Timur.
“Kami juga mendorong ekspor CPO ke Belarus. Selama ini produk tersebut belum masuk ke pasar Belarus, padahal mereka telah menyampaikan kebutuhannya sekitar 14 ribu ton. Ini menjadi peluang yang harus segera kita tindak lanjuti agar perdagangan kedua negara semakin meningkat,” ujarnya.
Pertemuan itu juga menghasilkan kesepakatan untuk memperkuat kerja sama teknologi pertanian, modernisasi sistem irigasi, serta investasi sektor pertanian. Kerja sama ini akan difokuskan pada pengembangan mekanisasi pertanian, pengelolaan sumber daya air, dan pemanfaatan alat mesin pertanian (alsintan) untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
“Belarus memiliki pengalaman dan teknologi yang dapat menjadi mitra strategis bagi Indonesia. Sementara Indonesia memiliki potensi besar di sektor pertanian. Kolaborasi ini harus mampu mempercepat modernisasi pertanian dan memperkuat ketahanan pangan kedua negara,” kata Amran.
Di samping itu, Indonesia dan Belarus juga membahas peluang peningkatan kerja sama perdagangan produk susu. Hal itu ditujukan untuk menghasilkan produk susu berkualitas dengan harga yang lebih kompetitif.
“Kami ingin setiap kerja sama yang dibangun memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, baik melalui peningkatan kualitas produk, harga yang lebih kompetitif, maupun terbukanya peluang ekonomi baru bagi kedua negara,” ujarnya.
Artikel Terkait
Indonesia Klaim Capai Swasembada Beras Tanpa Impor pada Akhir 2025
Prabowo Terima Kunjungan Presiden Belarus Pekan Ini, Bahas Kerja Sama Dagang hingga Teknologi
Survei Litbang Kompas: Kepercayaan Publik terhadap Polri Naik Jadi 82,4%
Indonesia Tawarkan Ekspor 10 Ribu Ton Beras ke Singapura untuk Perkuat Kerja Sama Pangan