Mengapa Kekaisaran Romawi Timur Tak Pernah Menyebut Dirinya Byzantium

- Rabu, 01 Juli 2026 | 11:20 WIB
Mengapa Kekaisaran Romawi Timur Tak Pernah Menyebut Dirinya Byzantium

Salah satu pengelabuan terbesar dalam sejarah adalah pemberian nama "Byzantium" kepada Kekaisaran Romawi Timur. Sejak Kaisar Konstantinus I mendirikan kekaisaran dengan ibu kota Konstantinopel pada tahun 330 M hingga kejatuhannya di tangan Sultan Mehmed II pada 1453 M, tidak ada seorang pun yang menyebut entitas itu sebagai Byzantium. Kaisar dan penduduknya selalu menyebut diri mereka sebagai Romawi, meskipun bahasa yang digunakan adalah Yunani.

Al-Qur'an menegaskan hal ini dengan menyebut pihak yang bertikai sebagai "ar-Rum" (Romawi) dalam surah Ar-Rum. Hadis tentang pertemuan Abu Sufyan dengan Kaisar Heraklius di Yerusalem pada tahun 628 M juga menyebut Heraklius sebagai "Kaisar Romawi". Tidak ada penyebutan Byzantium dalam sumber-sumber Islam awal.

Lalu kapan istilah Byzantium muncul? Sejarawan Jerman Hieronymus Wolf pada abad ke-16 mulai menggunakan istilah itu, dan kemudian dipopulerkan oleh Montesquieu pada abad ke-17 hingga ke-18. Mengapa? Karena Barat tidak rela bahwa Kekaisaran Romawi ikon peradaban Barat dan Kristen dihancurkan oleh Sultan Mehmed II, seorang Muslim. Sampai kapan pun, mereka tidak akan menerima bahwa Romawi telah dikalahkan oleh Islam.

Barat menganggap diri mereka sebagai pewaris Romawi, baik dalam sistem republik (Trias Politica) maupun masyarakatnya. Istilah Pax Britannica dan Pax Americana adalah kelanjutan dari Pax Romana. Arsitektur gedung pemerintahan di Inggris dan Amerika Serikat pun masih mengadopsi gaya Romawi.

Inilah mengapa hadis-hadis tentang akhir zaman masih menyebut "Bangsa Romawi" mereka tetap eksis hingga akhir zaman, meskipun bukan lagi dari Semenanjung Italia atau Balkan.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags