PT PP London Sumatra Tbk (LSIP) atau Lonsum memutuskan untuk membagikan dividen tunai sebesar Rp83 per saham kepada para pemegang sahamnya untuk tahun buku 2025. Pembagian dividen ini dijadwalkan berlangsung pada 24 Juli 2026.
Nilai tersebut meningkat 28 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan ini didorong oleh kinerja perseroan yang melesat seiring lonjakan harga minyak sawit mentah atau CPO. Dengan harga saham LSIP yang berada di level Rp1.320, dividen ini setara dengan imbal hasil atau dividend yield sekitar 6,3 persen.
Keputusan itu diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada Kamis, 25 Juni 2026. Dalam rapat tersebut, pemegang saham menyetujui pembagian 30 persen laba bersih sebagai dividen. Angka ini menunjukkan komitmen perseroan untuk mempertahankan rasio pembayaran dividen atau payout ratio di level yang sama dengan tahun lalu.
Direktur Utama Lonsum, Tan Agustinus Dermawan, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemegang saham atas dukungan yang diberikan. "Lonsum akan terus mengelola kegiatan usahanya secara hati-hati serta menjalankan operasinya secara berkelanjutan. Lonsum tetap berfokus pada peningkatan pengendalian biaya dan efisiensi, memprioritaskan belanja modal, serta meningkatkan produktivitas," ujarnya dalam keterangan tertulis.
Sepanjang 2025, Lonsum mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,89 triliun. Angka ini tumbuh 28 persen dibandingkan capaian tahun 2024 yang sebesar Rp1,48 triliun. Kinerja tersebut sejalan dengan peningkatan penjualan neto yang naik 21 persen menjadi Rp5,5 triliun.
Perusahaan perkebunan milik konglomerat Anthoni Salim ini diuntungkan oleh kenaikan harga rata-rata jual CPO serta volume penjualan produk sawit yang lebih tinggi. Dari sisi produksi, volume tandan buah segar (TBS) sawit sepanjang 2025 tercatat stabil di angka 1,34 juta ton. Rinciannya, sebanyak 1,13 juta ton berasal dari kebun inti turun 3 persen dan 204 ribu ton dibeli dari petani plasma, yang justru meningkat 19 persen.
Produksi CPO naik tipis 2 persen menjadi 292 ribu ton dengan tingkat ekstraksi atau extraction rate (ER) sebesar 21,9 persen. Sementara itu, produksi Palm Kernel (PK) mencapai 82 ribu ton, naik 1 persen dengan ER 6,1 persen.
Hingga akhir 2025, perseroan mengelola lahan perkebunan seluas 110.982 hektare. Dari total tersebut, 90.798 hektare merupakan kebun sawit, 16.203 hektare kebun karet, dan 3.981 hektare ditanami komoditas lainnya.
Artikel Terkait
BI Kerahkan 46 Kantor Perwakilan untuk Perluas Program Pembinaan UMKM dan Pemberdayaan Pesantren
Kementerian ESDM Sempat Tahan Ekspor Batu Bara demi Amankan Pasokan Listrik PLN
Rupiah Ditutup Menguat di Tengah Ketegangan Geopolitik dan Pengetatan Anggaran MBG
Platform Desktop Trading Makin Diminati Investor, Ajaib Terminal Hadir sebagai Alternatif Analisis Saham