IDXChannel – Tiga bulan pertama tahun ini, PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK) masih on fire. Produsen cetakan sarung tangan itu berhasil mencatatkan penjualan Rp251 miliar di kuartal I-2026. Angkanya naik sekitar 24 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Kalau kita lihat laporan keuangan mereka yang dirilis Senin (27/4/2026), penjualan MARK tumbuh di dua lini sekaligus: ekspor dan lokal. Untuk pasar luar negeri, penjualannya naik 20 persen jadi Rp208 miliar. Sementara di dalam negeri, malah lebih gila lagi melonjak 48 persen ke angka Rp43 miliar.
Nah, produk andalan mereka tetaplah cetakan sarung tangan. Segmen ini menyumbang Rp222,7 miliar, atau sekitar 89 persen dari total penjualan. Sisanya? Ada dari peralatan pertanian yang membukukan Rp18 miliar, dan peralatan rumah tangga sebesar Rp10 miliar.
Tapi, harga bahan baku lagi naik. Alhasil, beban pokok penjualan alias COGS ikut terkerek 37 persen jadi Rp133 miliar. Namun begitu, laba kotor mereka tetap tumbuh 11 persen ke Rp118 miliar. Meski begitu, marginnya sedikit tergerus dari 52 persen jadi 47 persen. Wajar sih, mengingat tekanan biaya.
Di sisi lain, laba usaha MARK justru naik 20 persen menjadi Rp102,2 miliar, dengan margin 40,7 persen. Kenaikan ini didorong oleh efisiensi di pos beban usaha yang turun 23 persen, menjadi hanya Rp15,8 miliar. Lumayan kan?
Pada akhirnya, laba bersih mereka tercatat Rp83,4 miliar di kuartal I-2026. Naik 19 persen. Laba per saham dasarnya jadi Rp21,95. Tapi margin laba bersihnya sedikit menurun dari 34 persen jadi 33 persen. Sedikit, tapi tetap positif.
Kinerja yang moncer ini juga terlihat dari kondisi keuangan yang makin solid. Posisi kas dan setara kas melesat 59 persen, mencapai Rp143 miliar. Menariknya, MARK juga melunasi utang bank jangka pendek senilai Rp56,5 miliar. Akibatnya, beban keuangan mereka berkurang drastis.
Hingga 31 Maret 2026, ekuitas perusahaan tumbuh 9 persen jadi Rp982 miliar. Sementara saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya mengendap di angka Rp829,5 miliar. Cukup tebal untuk modal ekspansi ke depan.
Dari sisi arus kas, aktivitas operasional (CFO) meningkat 78 persen menjadi Rp119 miliar. Ini seiring dengan lonjakan penerimaan kas dari pelanggan. Sementara belanja modal yang terserap hanya Rp6,6 miliar terbilang kecil untuk ukuran perusahaan sebesar ini.
(Rahmat Fiansyah)
Artikel Terkait
Geoprima Solusi Akuisisi Aset Rp78,5 Miliar, Bertransformasi Jadi Pemain Industri Komponen Mekanikal
IHSG Ditutup Menguat 0,65 Persen ke 7.175, Sektor Bahan Baku Paling Moncer
Harga Amonia Melonjak Akibat Ketegangan Timur Tengah, Saham ESSA Melesat 57 Persen Sepanjang 2026
IHSG Diperkirakan Masih Tertekan Pekan Ini, Rupiah Sentuh Rekor Terlemah Rp17.315 per Dolar AS