Menteri Keuangan Tolak Pinjaman IMF-Bank Dunia USD 30 Miliar, Andalkan Cadangan Negara

- Rabu, 22 April 2026 | 05:40 WIB
Menteri Keuangan Tolak Pinjaman IMF-Bank Dunia USD 30 Miliar, Andalkan Cadangan Negara

Di tengah hiruk-pikuk Spring Meeting di Washington DC, ada satu tawaran yang bikin mata dunia keuangan melirik ke Indonesia. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa baru saja mendapat penawaran pinjaman fantastis, mencapai 25 hingga 30 miliar dolar AS, dari dua raksasa keuangan: IMF dan Bank Dunia. Tujuannya, untuk mengamankan posisi fiskal kita di tengah situasi Timur Tengah yang makin panas.

Tapi jawabannya? Tidak, terima kasih.

Dengan tegas, Purbaya menolak tawaran itu. Alasannya sederhana tapi kuat: Indonesia punya tabungan sendiri yang cukup gendut. Cadangan kas negara yang mencapai sekitar 25 miliar dolar AS atau kalau dirupiahkan, sekitar Rp428 triliun dinilainya masih sangat memadai. Dana sebesar itu dianggapnya perisai yang cukup tangguh untuk menahan guncangan ekonomi dari luar, tanpa perlu menambah beban utang baru.

"Saya bilang sama dia sekarang saya belum butuh karena saya sendiri punya persediaan hampir USD25 miliar untuk negara kita sendiri, jadi aman,"

Begitu penjelasan Purbaya kepada para wartawan di Kemenkeu, dengan nada percaya diri.

Menariknya, penolakan ini rupanya bikin para kreditur kelas dunia itu agak kecewa. Purbaya menceritakan reaksi mereka dengan gaya khasnya yang blak-blakan. Menurut dia, Indonesia yang ogah berutang berarti memotong potensi pendapatan mereka dari bunga pinjaman.

"Wah mukanya (World Bank & IMF) asem, karena dia gak bisa minjemin duit, gak bisa dapet bunga tuh mereka tuh. Tapi itu dalam keadaan apapun kondisi yang kita punyai harus kita jadikan senjata yang paling optimal,"

Ungkapnya sambil tersenyum.

Di sisi lain, Menteri yang akrab disapa Purbaya ini menekankan satu hal. Pemerintah punya komitmen kuat untuk memaksimalkan sumber daya dalam negeri. Setiap kebijakan fiskal yang diambil bukanlah kerja serampangan, melainkan hasil kalkulasi mendalam atas segala kemungkinan dampak ekonomi.

Intinya, pengelolaan dana cadangan atau "buffer" tadi akan terus dioptimalkan. Tujuannya jelas: menjaga agar roda perekonomian tetap berputar, bahkan ketika situasi global di luar sana terasa begitu tidak menentu dan penuh ketidakpastian.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar