Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah ternyata tak cuma urusan gizi anak. Di pasar modal, program ini disambut positif dan diprediksi bakal jadi pendorong serius bagi industri susu dalam negeri. Bahkan, bisa jadi katalis pertumbuhan untuk beberapa tahun ke depan.
Analis Bahana Sekuritas melihat peluang besar di sini. Mereka memperkirakan, MBG bisa menambah permintaan susu hingga setara 15% dari total pasar. Khusus untuk segmen susu cair, angkanya lebih menggoda: sekitar 30% dalam dua tahun mendatang. Yang menarik, permintaan ini dinilai punya daya tahan. Program semacam ini, kata mereka, bisa membentuk kebiasaan konsumsi baru yang berkelanjutan.
Menyikapi prospek itu, Bahana pun mulai mengulas sektor dairy dengan rekomendasi "overweight". Beberapa saham yang jadi andalan mereka antara lain Cisarua Mountain Dairy (CMRY), Indofood CBP Sukses Makmur (ICBP), dan Ultrajaya Milk Industry (ULTJ). Target harganya masing-masing Rp6.200, Rp9.200, dan Rp2.500 per saham.
Sebagai gambaran, pada penutupan perdagangan Selasa (14/4/2026), harga ketiga saham itu masih di bawah level tersebut. CMRY berada di Rp4.520, ICBP di Rp7.225, dan ULTJ merangkak di Rp1.495 per unit.
Namun begitu, tidak semua analis sepakat sepenuhnya. CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI) dalam riset Maret lalu memang mempertahankan rekomendasi "add" untuk CMRY. Mereka sepakat bahwa permintaan dari MBG, ditambah ekspansi kanal distribusi dan inovasi produk, akan menjadi penopang kinerja perusahaan.
Tapi, CGSI juga melakukan koreksi. Mereka sedikit menurunkan proyeksi laba per saham (EPS) CMRY untuk periode 2026-2028, sekitar 3,5% hingga 5,7%. Imbasnya, target harga berbasis DCF pun turun menjadi Rp5.800. Beberapa risiko yang perlu diwaspadai antara lain kenaikan harga bahan baku, biaya promosi yang membengkak, dan persaingan yang makin sengit.
Di sisi lain, pandangan untuk Ultrajaya justru lebih cerah. Analis Nomura, Heng Siong Kong, melihat tren pertumbuhan penjualan perusahaan ini masih akan berlanjut. Salah satu pendorong utamanya ya program MBG itu sendiri.
“Program ini diperkirakan terus berkembang secara bertahap seiring semakin banyak dapur yang menyediakan susu, yang pada akhirnya akan meningkatkan kontribusi penjualan susu UHT full cream perusahaan,” tulis Heng dalam laporannya.
Dia menambahkan, posisi Ultrajaya cukup kuat untuk menangkap peluang ini, didukung oleh merek yang sudah mapan di benak konsumen.
Optimisme itu tercermin dari revisi proyeksi Nomura. Mereka menaikkan perkiraan laba Ultrajaya sebesar 11% untuk tahun 2026 dan 7,6% untuk 2027. Target harga saham pun dinaikkan jadi Rp2.850, dari sebelumnya Rp2.550, dengan rekomendasi "buy" yang tetap dipertahankan.
Semua analisis dan proyeksi ini tentu jadi bahan pertimbangan. Tapi ingat, keputusan final untuk membeli atau menjual saham sepenuhnya ada di tangan investor. Semua risiko dan peluang harus ditimbang dengan cermat.
Artikel Terkait
Harga Minyak Diprediksi Terombang-ambing oleh Hasil Pertemuan OPEC+ dan Data Konsumsi Bensin AS
Belanja Modal Telkom Kuartal I-2026 Turun Jadi Rp4,9 Triliun, Fokus pada Infrastruktur Inti
Gaji ke-13 ASN, TNI, Polri, dan Pensiunan Cair Mulai 2 Juni 2026
Kinerja Operasional IPCC Tumbuh 16 Persen hingga Awal Kuartal II 2026, Didorong Kenaikan Arus Kendaraan Niaga