Menurut Yani, pemanfaatan teknologi bottoming punya nilai lebih. Teknologi ini bisa menangkap panas sisa dari operasi pembangkit eksisting yang selama ini mungkin terbuang.
"Melalui teknologi ini, panas sisa yang sebelumnya belum termanfaatkan dapat dikonversi kembali menjadi listrik," jelasnya.
Dia menambahkan, cara kerja ini bukan cuma meningkatkan efisiensi, tapi juga memperkuat porsi energi bersih dalam bauran nasional. "Ke depan, kami siap melanjutkan proyek ini ke tahapan berikutnya agar manfaatnya dapat segera dirasakan masyarakat," tegas Yani.
Sebagai perusahaan dengan pengalaman lebih dari 40 tahun di sektor panas bumi, PGE memang terus mencari celah inovasi. Proyek Lahendong ini adalah salah satu bentuknya. Saat ini, kapasitas terpasang dari operasi mereka sendiri mencapai 727 MW yang tersebar di enam wilayah kerja. Dan masih ada sejumlah proyek pengembangan lain yang sedang dipersiapkan untuk menambah angka itu dalam beberapa tahun mendatang.
Artikel Terkait
IHSG Melonjak 2,14% Didorong Aksi Beli Luas di Sesi I
Harga Minyak Tembus US$100 per Barel, Pemerintah Didesak Perkuat Ketahanan Energi
Saham Sawit Terus Melaju Didorong Optimisme Mandatori B50
Pasar Saham Asia Menguat Didorong Harapan Perundingan AS-Iran