Bursa saham Asia kembali menunjukkan sinyal hijau di awal pekan ini. Sentimen pasar yang sempat muram akibat ketegangan di Timur Tengah, perlahan mulai berubah. Ternyata, kabar dari meja perundingan berhasil memberi angin segar.
Indeks Nikkei 225 Jepang melonjak cukup tajam, naik 2,53 persen ke level 57.932,07. Posisi ini disebut-sebut sebagai yang tertinggi sejak konflik dengan Iran memanas. Tak jauh beda, indeks Topix juga ikut merangkak naik 1,11 persen.
Lalu, apa pemicunya? Rupanya, pernyataan dari Wakil Presiden AS, JD Vance, punya pengaruh besar. Dikutip dari Reuters, Vance menyebut ada kemajuan dalam negosiasi dengan Iran. Salah satu poin penting adalah potensi dibukanya kembali Selat Hormuz untuk jalur pengiriman minyak.
“Risiko tetap ada jika situasi kembali memburuk,” kata Maki Sawada, kepala strategi ekuitas Nomura Securities.
“Namun dengan sentimen yang lebih tenang, perhatian akan beralih ke kinerja laba perusahaan Jepang yang diperkirakan mulai menguat,” tambahnya.
Efek dari kabar itu langsung terasa. Harga minyak mentah AS dan Brent sama-sama melemah, masing-masing ke angka USD97,20 dan USD97,93 per barel. Penurunan harga komoditas energi ini jelas meredakan kekhawatiran inflasi.
Di Korea Selatan, semangat itu bahkan lebih terasa. Indeks KOSPI melesat 3,16 persen, menembus level 5.992,19. Ini jadi posisi tertingginya dalam enam pekan terakhir. Pelaku pasar seolah menarik napas lega, dan mulai berani mengambil risiko lagi setelah sebelumnya didera tekanan jual asing di Maret lalu.
Memang, pembicaraan akhir pekan lalu belum menghasilkan kesepakatan final. Tapi menurut sejumlah sumber yang dekat dengan prosesnya, dialog antara Washington dan Teheran masih terus berjalan. Itu saja sudah cukup untuk mengubah mood pasar.
Di sisi lain, penguatan di kawasan Asia lainnya terlihat lebih kalem. Hang Seng Index cuma naik 0,41 persen, sementara Shanghai Composite menguat 0,40 persen. Di Australia, S&P/ASX 200 bertambah 0,59 persen, dan Straits Times Index Singapura naik 0,43 persen. Pergerakannya moderat, tapi setidaknya trennya positif.
Jadi, untuk sementara, pasar bisa sedikit bernafas. Fokus pelan-pelan bergeser dari geopolitik kembali ke fundamental perusahaan. Tentu, semua masih bisa berubah cepat. Tapi hari ini, sentimen damai yang jadi pemimpinnya.
Artikel Terkait
Prospek Bank Syariah Cerah di Tengah Tekanan Pasar Modal, Bisnis Emas dan Haji Jadi Motor Pertumbuhan
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.881 per Dolar AS, Tertekan Sentimen Fiskal Domestik dan Ketidakpastian Moneter Global
KWT Mawar 8 di Tangerang Jaga Kualitas Sayur Hidroponik, Utamakan Mutu Dibanding Volume Panen
IHSG Terkoreksi 0,56% dalam Sepekan, Aksi Jual Asing dan Rebalancing MSCI Tekan Saham Bank Besar