Pemulihan ekonomi masyarakat yang terdampak bencana hidrometeorologi di tiga provinsi Sumatra mulai menunjukkan titik terang, dengan aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang kembali bergairah dan transaksi digital yang melonjak signifikan. Di tengah proses rehabilitasi dan rekonstruksi yang masih berjalan, geliat ekonomi rakyat ini menjadi indikator awal bahwa roda kehidupan perlahan kembali berputar.
Data terbaru dari Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatra mencatatkan angka yang menggembirakan. Hingga 30 Mei 2026, total transaksi UMKM melalui platform e-commerce di tiga wilayah terdampak Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah mencapai 14.712.693 transaksi. Jumlah ini meningkat dibandingkan awal bulan yang tercatat sebesar 13.209.182 transaksi.
Kenaikan tersebut tidak hanya mencerminkan kemampuan adaptasi pelaku usaha kecil di tengah keterbatasan, tetapi juga menjadi bukti mulai pulihnya daya beli dan aktivitas ekonomi keluarga penyintas. Secara lebih rinci, Aceh mencatatkan 94.300 transaksi dengan 1.396 produk UMKM yang dipasarkan secara digital. Sumatra Utara menjadi wilayah dengan transaksi tertinggi, yakni 11.093.689 transaksi dari 631 produk, sementara Sumatra Barat menyumbang 3.524.704 transaksi dari 101 produk yang dipasarkan.
Di sisi lain, percepatan penyaluran bantuan stimulan ekonomi bagi masyarakat terdampak juga berjalan beriringan. Hingga akhir Mei, realisasi penyaluran bantuan di Aceh telah mencapai Rp250,745 miliar dari total alokasi Rp254,440 miliar. Sumatra Utara menyalurkan Rp56,615 miliar dari Rp62,900 miliar, sedangkan Sumatra Barat telah merealisasikan Rp16,835 miliar dari total Rp17,740 miliar.
Menteri UMKM, Maman Abdurrahman, menegaskan bahwa penguatan sektor usaha mikro menjadi pilar utama dalam strategi pemulihan permanen pascabencana. Pemerintah, menurutnya, telah merancang dukungan pengembangan usaha mikro senilai sekitar Rp900 miliar hingga Rp1 triliun yang difokuskan bagi pelaku usaha terdampak, terutama mereka yang belum memiliki akses terhadap layanan perbankan.
"Kurang lebih pengembangan usaha mikro sekitar Rp900 miliar sampai Rp1 triliun masuk dalam Renduk. Bantuan ini untuk pengembangan usaha mikro bagi mereka yang belum terakses perbankan. Targetnya sekitar 200 ribu pengusaha mikro selama dua tahun," kata Maman dalam keterangan tertulis, Sabtu (30/5/2026).
Sementara itu, Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatra, Muhammad Tito Karnavian, menjelaskan bahwa proses penanganan bencana kini secara bertahap memasuki fase pemulihan permanen melalui rehabilitasi dan rekonstruksi yang akan berlangsung hingga 2028. Pada tahap ini, pemulihan ekonomi masyarakat menjadi salah satu prioritas utama, selain pembangunan hunian, infrastruktur, dan layanan dasar.
"Sekarang kita akan melakukan proses menuju pemulihan permanen. Dari tiga tahapan itu, tanggap darurat, transisi, kemudian kita masuk masa menuju permanen, kita namakan rehab-rekon, dan ini kuncinya adalah Renduk," ujar Tito.
Artikel Terkait
Petugas Darurat Cabut Tiang PJU di Jalan Amblas Lenteng Agung Cegah Risiko Roboh
Presiden Prabowo Bawa Pulang Kesepakatan Bisnis Rp 61,25 Triliun Hasil Kunjungan ke Prancis
Bareskrim Periksa Asisten YouTuber RA Terkait Pembelian dan Penggunaan Gas Tertawa Whip Pink
Wagub DKI Ingin Kelola Stadion ala San Siro: Satukan Rivalitas, Bukan Konflik