Dampaknya langsung terasa di pasar energi. Harga minyak mentah melonjak tajam. Brent bahkan berhasil menembus lagi level psikologis USD100 per barel. Nah, lonjakan inilah yang bikin investor waswas. Kekhawatiran inflasi akibat energi bisa kembali menghantui dalam beberapa bulan mendatang.
Sentimen negatif makin menjadi-jadi setelah data inflasi AS untuk Maret dirilis. Indeks Harga Konsumen (CPI) naik cukup signifikan. Gangguan pasokan minyak akibat konflik Iran disebut-sebut sebagai penyumbang utama kenaikan itu.
Kondisi ini bikin banyak orang khawatir. Inflasi yang membandel berpotensi menggerus pertumbuhan ekonomi ke depan.
Lalu, bagaimana dengan Federal Reserve? Tekanan inflasi yang terus bertahan jelas mempersulit langkah mereka. Ruang untuk memotong suku bunga jadi sangat terbatas. Bukan tidak mungkin, kebijakan moneter ketat akan dipertahankan hingga akhir tahun ini.
Jadi, awal pekan di Wall Street ini benar-benar diwarnai ketidakpastian. Geopolitik dan inflasi, sekali lagi, menjadi duo yang menggerus sentimen investor.
Artikel Terkait
RGAS Rencanakan Diversifikasi ke Bisnis Material Konstruksi pada 2026
Prabowo Ucapkan Terima Kasih kepada Putin atas Dukungan Masuknya Indonesia ke BRICS
YULE Bagikan Dividen Rp15,8 Miliar, Cair 13 Mei 2026
Transaksi SPPA BEI Melonjak 461% Didorong Fitur Repo