Michael mencontohkan, penguatan nggak cuma di Barito. "Sebut saja contoh saham-saham Happy Hapsoro dan Grup Bakrie," katanya.
Namun begitu, semua masih menunggu. Menurut Michael, arah saham konglomerasi ke depan sangat bergantung pada keputusan indeks global berikutnya, terutama dari MSCI yang rencananya bakal rebalancing besar-besaran pada Mei nanti. "Saham konglo masih perlu menunggu kejelasan dari indeks MSCI," tegasnya.
Pendapat serupa datang dari analis CGS International, Hadi Soegiarto. Dalam risetnya, dia menyoroti inisiatif reformasi pasar modal Indonesia yang sudah jalan, termasuk daftar HSC itu. Tapi, menurutnya, bola sekarang ada di pihak MSCI.
"Kami menilai keputusan kini berada di tangan MSCI," tulis Hadi. Dia memperkirakan pembaruan akan dirilis sebelum pengumuman rebalancing indeks pada 12 Mei, kemungkinan di akhir April.
Hadi melihat peluang Indonesia untuk diturunkan statusnya kini semakin kecil berkat langkah reformasi tadi. Tapi, dia memperingatkan, bobot Indonesia di indeks MSCI berpotensi turun secara moderat. Soalnya, bisa aja ada saham yang dikeluarkan atau free float-nya berkurang.
Yang bikin was-was, kasus kayak gini di Indonesia belum pernah terjadi. Jadi, risiko hasil yang lebih buruk dari perkiraan tetap terbuka lebar. Kondisi ini bisa bikin investor, terutama yang main jangka pendek, jadi lebih hati-hati mendekati akhir April.
Dari sisi harga, CGSI memperkirakan skenario penurunan bobot yang moderat itu sebagian sudah tercermin di pasar. Mereka menghitung, potensi arus keluar dana pasif bisa sekitar USD1,1 miliar sampai USD2,1 miliar. Sekitar USD1,4 miliar di antaranya dinilai sudah terdiskon, sejalan dengan aksi jual investor asing yang terjadi dalam 2,5 pekan setelah peringatan MSCI akhir Februari lalu.
Jadi, meski ada rebound yang menggembirakan, suasana hati pasar masih diliputi ketidakpastian. Semuanya tergantung pada kata MSCI nanti.
Artikel Terkait
Autopedia Rencanakan Buyback Saham Senilai Rp20 Miliar untuk Program MESOP
Saham Prajogo Pangestu Cetak Kenaikan Signifikan Hingga Enam Hari Berturut-turut
IHSG Dibuka Melemah, Investor Domestik Lakukan Net Sell Rp200 Miliar
IHSG Terperosok 0,97%, Hampir Semua Sektor Tertekan