Di sisi lain, performa operasionalnya cukup beragam. Penjualan neto mereka naik 11 persen jadi Rp2,91 triliun. Tapi, ada tekanan di sisi laba kotor yang turun 2,2 persen ke posisi Rp884 miliar. Menurut laporan, kenaikan biaya produksi jadi penyebabnya.
Kalau dilihat dari kekuatan ekuitas, posisinya sampai akhir Desember 2025 cukup solid di angka Rp1,89 triliun. Sementara saldo laba yang ditahan perseroan malah lebih besar, mencapai Rp1,98 triliun.
Jaringan produksi dan distribusi ARNA terbilang luas. Mereka mengoperasikan lima pabrik yang tersebar dari Serang, Tangerang, hingga Gresik, Mojokerto, dan Ogan Ilir. Untuk mendistribusikan produk keramiknya, mereka dibantu oleh 56 sub distributor dan jaringan lebih dari 40 ribu toko.
Kapasitas produksinya pun hampir maksimal. Hingga akhir tahun lalu, kapasitas terpasang mereka 68,77 juta meter persegi dengan utilitas tingkat penggunaan pabrik mencapai 97 persen. Angka ini naik dibanding 2024. Produksi aktualnya sendiri tumbuh 2,3 persen secara tahunan, menjadi 63,54 juta m2.
Jadi, meski ada tantangan biaya, dividen yang dibagikan justru lebih besar. Sebuah sinyal yang mungkin disambut baik oleh pasar.
Artikel Terkait
Cimory Bagikan Dividen Rp1,59 Triliun dari Laba Bersih Rp2,03 Triliun
IHSG Melonjak 2,07%, Sentimen Beli Dominasi Pasar Saham
Saham TRUK Melonjak 24,73% Meski Rugi, WBSA IPO Diserbu Investor
Harga CPO Melemah Meski Stok Turun, Pasar Khawatir Produksi Lampaui Permintaan