Nah, dengan rampungnya proses itu, kini giliran manajemen Tambang Hengjaya dan PT Fajar Metal Industry yang bergerak. Mereka berkoordinasi penuh dengan otoritas setempat untuk melanjutkan pekerjaan konstruksi di bagian jalur transmisi ENC lokasi tepat dimana kecelakaan dulu terjadi.
Keberadaan Hengjaya sendiri cukup vital. Tambang ini adalah salah satu aset kunci Nickel Industries di kawasan Morowali, jantungnya industri pengolahan nikel Indonesia. Jadi, kembalinya operasi tentu jadi angin segar.
Di sisi lain, hubungan bisnisnya dengan UNTR juga patut dicatat. United Tractors, raksasa alat berat itu, memegang kepemilikan efektif sebesar 20,1 persen saham di Nickel Industries. Data ini mengacu pada laporan keuangan mereka di tahun 2025.
Jadi, meski duka atas insiden lalu masih terasa, roda industri harus terus berputar. Dengan pengawasan yang diharapkan lebih ketat.
Artikel Terkait
Cimory Bagikan Dividen Rp1,59 Triliun dari Laba Bersih Rp2,03 Triliun
IHSG Melonjak 2,07%, Sentimen Beli Dominasi Pasar Saham
Saham TRUK Melonjak 24,73% Meski Rugi, WBSA IPO Diserbu Investor
Harga CPO Melemah Meski Stok Turun, Pasar Khawatir Produksi Lampaui Permintaan