Pergerakan hari Rabu itu cukup historis. Dow mencatat kenaikan persentase terbesar dalam satu sesi sejak April tahun lalu. S&P 500 bahkan berhasil menembus rata-rata pergerakan 200 hari untuk pertama kalinya sejak pertengahan Maret.
Dari 11 sektor utama, delapan di antaranya melonjak lebih dari 2 persen. Sektor industri jadi yang terdepan. Tapi, tidak semua merasakan manisnya kenaikan. Sektor energi justru terpuruk, anjlok 3,7 persen, terdampak langsung oleh jatuhnya harga minyak mentah.
Kontrak berjangka minyak WTI dan Brent benar-benar kolaps, masing-masing merosot 16,4% dan 13,3%. Keduanya akhirnya settle di bawah level psikologis USD100 per barel. Penurunan yang cukup dramatis.
Di balik optimisme pasar, Federal Reserve rupanya punya kekhawatiran sendiri. Risalah rapat mereka Maret lalu mengungkapkan keterbukaan untuk menaikkan suku bunga. Alasannya, prospek inflasi tahun 2026 meningkat akibat guncangan harga minyak dari perang tadi.
Secara teknis, pasar terlihat sangat bullish. Di NYSE, saham yang naik mengalahkan yang turun dengan rasio 5,67 banding 1. Nasdaq juga menunjukkan tren serupa dengan rasio 3,05 banding 1. Volume perdagangan pun tinggi, mencapai 20,64 miliar saham, melampaui rata-rata 20 hari terakhir.
Jadi, meski ada secercah harapan dari gencatan senjata, pasar tetap menari di atas ketidakpastian. Investor bernapas lega untuk sementara, tapi mata mereka tetap tertuju ke Timur Tengah dan ruang rapat The Fed.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Turun Rp50 Ribu per Gram, Buyback Anjlok Rp59 Ribu
IHSG Berpotensi Lanjutkan Penguatan, Analis Soroti Enam Rekomendasi Saham
Harga Emas Melonjak Dekati Level Tertinggi Usai Gencatan Senjata AS-Iran
Analis Proyeksikan Harga CPO Naik Didorong Kebijakan B50 Mulai 2026