Peringatan serupa datang dari Josh Gilbert, analis eToro. Meski mengakui bahwa turunnya harga minyak meringankan tekanan inflasi dan membuka jalan bagi saham, ia mengingatkan agar investor tidak lengah.
Di pasar komoditas, penurunan harga minyak terlihat jelas. Pagi ini, harga minyak WTI anjlok 14 persen ke level USD 97,59 per barel. Sementara minyak Brent jatuh 12,5 persen ke USD 95,65. Keduanya kini tercatat di bawah level psikologis 100 dolar AS.
Menurut Michael Brown dari Pepperstone, sentimen risiko yang membaik ini wajar. Pasar sudah lama menunggu langkah konkret untuk meredakan ketegangan. “Jadi, wajar jika investor kini kembali agresif,” katanya.
Efek positifnya juga merambah ke pasar obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah Asia turun, menandakan harganya yang menguat. Imbal hasil Jepang turun 4,5 basis poin, Australia turun 10 basis poin, dan Selandia Baru turun 9 basis poin.
Mayoritas mata uang regional pun menguat terhadap dolar AS. Won Korea Selatan menguat 1,1 persen, baht Thailand naik 1 persen. Dolar Australia dan dolar Selandia Baru juga naik masing-masing 1,1 persen dan 1 persen. Hanya yen Jepang yang sedikit melemah 0,6 persen.
Jadi, meski ada optimisme yang meluas, nuansa kehati-hatian masih jelas terasa. Dua pekan ke depan akan menjadi penentu apakah reli ini punya fondasi yang kuat, atau hanya sekadar euforia sesaat.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Naik Rp19.000 per Gram, Galeri24 dan UBS Ikut Menguat
Pasar Logam Menguat Usai Gencatan Senjata AS-Iran Buka Kembali Selat Hormuz
Analis Prediksi IHSG Berpeluang Rebound, Level 7.050 Jadi Kunci
IHSG Melonjak 2,75% di Awal Sesi, Semua Sektor Berbalut Hijau