Tapi jangan salah, Iran tampaknya tetap bersikap hati-hati. Mereka menegaskan bahwa dialog dengan AS sama sekali tidak berarti perang sudah berakhir. Pihak Iran baru akan menyetujui penutupan konflik setelah semua detail dalam rencana 10 poin itu tuntas dibahas. Jadi, masih panjang jalan menuju perdamaian.
Dampaknya di pasar langsung terasa. Harga minyak mentah WTI untuk pengiriman Mei anjlok tajam, 10,66 persen, menjadi USD100,90 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka S&P 500 melonjak 1,6 persen. Dolar AS melemah secara luas, dan obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga naik tanda bahwa minat terhadap aset aman masih ada, meski sentimen risiko membaik.
Futures pasar saham Asia pun menunjukkan potensi penguatan. Ini adalah angin segar setelah sebelumnya tertekan berat oleh perang dan lonjakan harga energi yang mencekik.
Sebelum kabar gencatan senjata ini muncul, kondisi pasar minyak sebenarnya masih bergejolak. Pada penutupan perdagangan Selasa, harga Brent sempat turun 0,5 persen ke USD109,27 per barel. Kekhawatiran utamanya ya itu tadi: harga energi yang tinggi bisa membunuh pertumbuhan ekonomi. Sementara WTI justru naik 0,5 persen ke USD112,95, bahkan mencatat level tertinggi sejak pertengahan 2022.
Kekhawatiran para petinggi lembaga keuangan dunia pun belum sepenuhnya sirna. Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, sudah memperingatkan bahwa perang ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi global sekaligus mendorong inflasi lebih tinggi. Situasi yang benar-benar dilematis.
Peringatan serupa datang dari Presiden Federal Reserve Chicago, Austan Goolsbee. Dia menyatakan konflik semacam ini sangat berisiko memicu inflasi dan memperlambat ekonomi. Kalau sudah begini, bank sentral jadi benar-benar kesulitan untuk menentukan arah kebijakan moneter mereka.
Jadi, di mana posisi kita sekarang? Kesepakatan gencatan senjata sementara ini jelas jadi katalis utama. Pasar bergerak cepat merespons secercah harapan. Tapi semua mata sekarang tertuju pada meja perundingan di Islamabad. Apakah perundingan damai bisa berlanjut? Dan yang paling penting, apakah stabilitas pasokan energi global benar-benar bisa pulih? Itulah pertanyaan besar yang masih menggantung.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Naik Rp19.000 per Gram, Galeri24 dan UBS Ikut Menguat
Pasar Logam Menguat Usai Gencatan Senjata AS-Iran Buka Kembali Selat Hormuz
Bursa Asia Melonjak, Harga Minyak Anjlok Usai AS-Iran Sepakat Gencatan Senjata
Analis Prediksi IHSG Berpeluang Rebound, Level 7.050 Jadi Kunci