Air Mengalir, Harapan Tumbuh di Sikka
Air bersih itu soal hidup dan mati. Tapi lebih dari itu, ia soal martabat dan peluang. Di banyak sudut NTT, bertahun-tahun kekurangan air membelenggu warga. Urusan rumah tangga jadi sulit, apalagi memulai usaha kecil. Semuanya serba terbatas.
Namun begitu, suasana mulai berbeda di Dusun Watuliwung, Kabupaten Sikka. Sejak akhir tahun lalu, warga di sini merasakan sesuatu yang baru: air bersih mengalir langsung ke rumah mereka. Program “Sumber Air Kehidupan” dari Partai Perindo yang jadi penyebabnya. Perubahan itu nyata.
Bayangkan, sebelumnya tujuh kepala keluarga ini bergantung pada mobil tangki. Sekarang? Mereka punya sumur bor dengan menara penampung. Dua tandon raksasa masing-masing menampung lebih dari lima ribu liter menjadi pemandangan baru. Dari sana, air dialirkan lewat pipa, menghidupi kran-kran di depan rumah, bahkan sampai ke dapur dan pekarangan. Beban ekonomi pun terasa lebih ringan.
Bagi Bernadetha Rebo Novia, ibu rumah tangga 34 tahun, ini seperti keajaiban.
"Dulu, setiap dua minggu saya harus keluar uang Rp100 ribu untuk beli air dari tangki. Itu pun harus sangat berhemat," kenangnya, ditemui Senin lalu.
Hidup serba kekurangan. Mau masak, mandi, cuci, semuanya dihitung. Tapi sekarang? "Kami kelimpahan air," ujarnya singkat, senyum mengembang.
Dan kelebihan air itu membawa berkah lain. Pekarangan yang dulu gersang dan cuma ditumbuhi debu, sekarang hijau. Bernadetha dan tetangganya mulai menanam apa saja: kacang panjang, kangkung, terung, sawi. Hasilnya? Untuk makan sendiri, dan sisanya dijual.
"Sawi kami sudah habis dipanen, laku terjual. Rencana mau tanam lebih banyak lagi," katanya antusias. "Terima kasih Perindo. Bantuan ini sangat berarti."
Di sisi lain, Marthen Luther Adji, anggota DPRD Sikka dari Partai Perindo, menjelaskan latar belakang program ini. Menurutnya, ini adalah wujud komitmen partainya untuk memberi solusi nyata, bukan sekadar wacana.
"Lokasi pertama kami di Desa Watuliwung ini. Sudah beroperasi sejak November tahun lalu dan dimanfaatkan tujuh KK," jelas Marthen.
Dia mengakui, ini masih tahap awal. Jaringannya baru mencakup wilayah sekitar sumur. Tapi rencananya akan diperluas. Dusun Wairhubing dan Wetakara menjadi target berikutnya. Harapannya, ini bisa jadi solusi jangka panjang untuk krisis air yang sudah akut.
Pada akhirnya, yang terjadi di Watuliwung ini lebih dari sekadar urusan pipa dan tandon. Air yang mengalir itu telah mengubah pola pikir. Dari sekadar bertahan hidup, warga kini mulai berpikir untuk berkembang. Mereka menanam, berjualan, mandiri. Air bersih telah menjadi fondasi fondasi yang kokoh untuk membangun kesejahteraan dari tingkat yang paling dasar: pekarangan rumah sendiri.
Artikel Terkait
BRIDA Kaltim Kembangkan Model Insentif untuk Tarik Dokter Spesialis ke Daerah Terpencil
BPMP Kepri Gelar Forum Publik untuk Tingkatkan Mutu dan Inklusivitas Layanan Pendidikan
Gubernur DKI Perintahkan Tindakan Tegas untuk Dalang Tawuran Petamburan
BNPB: Lahan Terbakar di Kalteng Capai 380 Hektare pada 2026