Polantas Makassar Diusulkan untuk Hoegeng Awards 2026 Gagas Pendekatan Edukasi, Tolak Pungli

- Rabu, 08 April 2026 | 10:40 WIB
Polantas Makassar Diusulkan untuk Hoegeng Awards 2026 Gagas Pendekatan Edukasi, Tolak Pungli

Kalau berkendara di Makassar, mungkin Anda pernah mendengar tagline "Kembali ke Jalan yang Benar". Itu adalah buah pemikiran Bripka Jumahir, seorang polantas yang bertugas di Polrestabes setempat. Gagasannya sederhana: mengedukasi, bukan sekadar menghukum. Ia ingin warga paham dan mau tertib berlalu lintas dengan kesadaran sendiri.

Nah, sosoknya kini malah diusulkan dalam program Hoegeng Awards 2026. Bripka Mahir begitu ia biasa dipanggil juga aktif banget di media sosial. Ia rajin membagikan aktivitas kesehariannya di jalan, bukan untuk pamer, tapi lebih sebagai bentuk transparansi dan pembelajaran buat publik.

Cerita tentang polisi yang satu ini datang dari berbagai pihak. Salah satunya Wanny, seorang pegawai di dealer motor yang kerap berinteraksi dengannya karena sama-sama concern dengan kampanye keselamatan berkendara.

"Dalam hal ini, seiring kampanye kami, kami merasa terbantukan dengan beliau. Artinya, beliau ini adalah salah satu sosok yang... ya, boleh dikata 'beda dengan yang lain'," kata Wanny.

Menurut Wanny, pendekatan Bripka Mahir memang lain. Ia lebih mengutamakan edukasi. Penindakan? Itu jalan terakhir.

"Memang ada beberapa yang penindakan, tapi lebih banyak ke edukasi. Kalau saya lihat, penindakan itu kalau kasusnya sudah berulang kali ditegur, nah itu beliau baru ambil tindakan," ujarnya.

Ia lalu mencontohkan. Ketika menemukan pengendara tak berhelm, Bripka Mahir tidak serta-merta menilang. Ia akan meminta si pengendara untuk mengambil helmnya dulu. "Jadi kayak, 'Ya sudah, kamu ambil helmmu, kita tunggu sampai ini'. Jadi tidak mencari kesalahan, tapi memberi pemahaman," jelas Wanny.

Lebih lanjut Wanny menambahkan, ada catatan untuk setiap pelanggar yang ditegur. Jika ketahuan lagi, barulah tindakan tegas diambil. Yang menarik, menurut kesaksiannya, Bripka Mahir sama sekali bukan tipe yang mau menerima 'uang damai'. Malah, kerap keluar uang sendiri untuk membantu warga yang sedang kesusahan di jalan.

"Beliau lebih mau mengeluarkan duit buat orang, bukan mau mengambil uang dari orang. Kalau sudah menilang, berarti itu sudah parah sebenarnya. Sudah tidak bisa ditegur lagi," tutur Wanny.

Baginya, apa yang dilakukan Bripka Mahir itu tulus. Bukan sekadar konten untuk viral belaka.

Prinsip Seorang Polantas

Ketika dikonfirmasi, Bripka Mahir membenarkan pendekatannya yang humanis. "Tidak ditindak dengan tilang, tapi diedukasi untuk bisa tertib," katanya singkat. Ia punya cara unik untuk menjaga integritas: memvideokan setiap interaksi, terutama jika ada upaya menyuap atau menyelesaikan pelanggaran di luar prosedur.

"Termasuk apabila ada upaya untuk bersengkongkol melakukan damai di tempat, atau dalam tanda kutip pungli, itu kami videokan agar semua sesuai prosedur. Tidak boleh ada yang diselesaikan di luar," tegasnya.

Uang yang pernah ditawarkan padanya beragam, dari puluhan hingga ratusan ribu. Tapi ia selalu menolak. Alih-alih menerima, ia justru mengedukasi si pemberi bahwa perbuatan itu salah. "Masyarakat harus sportif saja mengakui kesalahannya," ujarnya.

Lalu, bagaimana solusinya bagi pelanggar? Misalnya, untuk pengendara tanpa helm. Ia punya beberapa opsi: menyuruh telepon keluarga untuk mengantar helm, menyewa Grab dengan uangnya sendiri, atau meminjamkan helm dinas sambil menunggu helm si pengendara diambil.

Sudah 13 tahun ia berdinas di satuan lalu lintas. Tapi baru pada 2024 ia gencar memanfaatkan media sosial. Latar belakangnya sederhana: keresahan melihat banyaknya pelanggaran, terutama melawan arus. "Alhamdulillah, semenjak saya viral, banyak masyarakat menyampaikan apresiasi. Dan semakin banyak yang takut melanggar karena takut ketemu saya, takut diviralkan," ceritanya sambil tertawa.

Impiannya jelas: mengubah citra polantas. "Polantas yang baik itu yang dicintai masyarakat, yang diharapkan kehadirannya. Tidak harus ditakuti," katanya. Ia yakin, citra baik polisi dimulai dari bagaimana mereka diperlakukan saat masih memiliki jabatan.

Asal Muasal Sebuah Tagline

Lantas, dari mana tagline "Kembali ke Jalan yang Benar" muncul? Bripka Mahir bercerita, itu datang dari permintaan masyarakat yang ingin ia punya ciri khas. Sekitar seminggu setelah videonya viral, di bulan puasa, inspirasi itu datang.

"Tanpa sengaja terlintas di pikiran saya bahwa oh iya, cocok 'kembali ke jalan yang benar'. Bukan cuma berlaku di jalanan, tapi di seluruh aspek kehidupan," kenangnya.

Syukurlah, tagline itu diterima dengan baik. Ia pun berpegang pada prinsip bahwa jabatan dan pangkat adalah sementara. Yang akan dikenang orang justru bagaimana kita memperlakukan mereka saat kita masih punya wewenang. Prinsip itulah yang tampaknya ia pegang teguh di setiap tugasnya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar