Pasar modal kita lagi diuji. IHSG akhirnya ditutup melemah di bawah level psikologis 7.000, tepatnya di 6.989,43, sementara rupiah bertahan di atas Rp17.000 per dolar AS. Kombinasi ini, menurut sejumlah analis, bukanlah kebetulan belaka. Ini cerminan dari sentimen 'risk-off' yang masih kuat menjangkiti investor domestik, di tengah gejolak global yang belum juga reda.
Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, punya pandangannya. Dia melihat ruang untuk stabilisasi pasar semakin sempit.
"Pelemahan IHSG yang sempat turun di bawah level 7.000, bersamaan dengan rupiah yang bertahan di atas Rp17.000, mencerminkan meningkatnya sentimen risk-off di pasar domestik. Dalam kondisi ini, ruang stabilisasi menjadi semakin terbatas, terutama di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi," ujar Rully dalam keterangan resminya, Selasa (7/4/2026).
Menariknya, pergerakan rupiah di level ini, sementara indeks dolar AS relatif stabil, dianggap Rully sebagai sebuah sinyal. Sepertinya Bank Indonesia mulai memberi ruang lebih besar bagi penyesuaian nilai tukar, setelah sebelumnya melakukan intervensi yang cukup agresif.
Namun begitu, tekanan belum tentu berakhir.
"Dengan IHSG yang telah terkoreksi hingga 6.917 dan rupiah di atas Rp17.000 per USD, kami melihat tekanan pasar masih berpotensi berlanjut, terutama jika arus keluar dana asing meningkat ke kisaran Rp500 miliar hingga Rp1 triliun per hari dalam jangka pendek," kata Rully.
Faktor eksternal seperti eskalasi geopolitik dan harga minyak yang melambung tetap jadi ancaman serius bagi negara net importir seperti Indonesia. Di sisi lain, tekanan juga datang dari dalam negeri.
Kebijakan pemerintah menahan harga BBM, meski bagus untuk daya beli, ternyata membebani APBN. Defisitnya hingga Maret 2026 membengkak jadi Rp240,1 triliun atau 0,9% PDB. Angka ini jauh lebih tinggi dibanding periode sama tahun lalu yang cuma 0,4%.
“Upaya menjaga stabilitas tetap penting, namun konsekuensinya adalah meningkatnya tekanan terhadap fiskal dan cadangan devisa,” tambah Rully.
Data hari itu pun menggambarkan suasana suram: net sell investor asing masih tinggi, mencapai Rp623 miliar.
Dari kacamata teknikal, prospeknya juga belum cerah. Muhammad Nafan Aji Gusta, Senior Technical Analyst di perusahaan yang sama, menilai IHSG masih terjebak dalam fase konsolidasi bearish.
“IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan menuju area support di 6.892 hingga 6.731, sementara resistance terdekat berada di kisaran 7.117 hingga 7.222,” jelas Nafan.
Intinya, selama level resistance itu belum tertembus, tekanan jual akan tetap mendominasi pergerakan indeks untuk sementara waktu.
Tapi bukan berarti sama sekali tak ada peluang. Di tengah awan kelabu ini, Nafan justru melihat beberapa titik terang untuk trading yang sangat selektif. Dia mencatat, saham Barito Pacific (BRPT) menunjukkan tanda-tanda akumulasi. Elnusa (ELSA) terlihat sudah oversold, sementara Map Aktif Adiperkasa (MAPA) tampaknya sedang dalam fase konsolidasi bullish.
“Pergerakan indeks dan saham saat ini menunjukkan pasar masih cenderung berhati-hati, dengan peluang trading yang lebih selektif," pungkas Nafan.
Jadi, situasinya jelas: hati-hati adalah kata kunci. Pasar sedang menunggu katalis positif, sambil bersiap menghadapi kemungkinan tekanan yang masih bisa berlanjut.
Artikel Terkait
Anak Usaha Chandra Asri Resmi Kelola Pelabuhan di Cilegon Perkuat Logistik Industri Petrokimia
Serangan AS di Iran Picu Lonjakan Harga Minyak Brent, Selat Hormuz Kembali Terancam
S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Penutupan Tertinggi, Saham AI dan Semikonduktor Pimpin Penguatan
Wall Street Ditutup Mixed, S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru di Tengah Optimisme AI