Ini bukan kali pertama ADRO melakukan aksi beli kembali. Mereka sudah pernah melakukannya tahun lalu, tepatnya dari 16 Mei sampai 2 Juni 2025, tanpa perlu rapat umum pemegang saham karena mengacu aturan POJK. Hasilnya, 33 juta saham atau 0,11% dari total modal berhasil ditarik.
Tak berhenti di situ, aksi buyback dilanjutkan lagi dari 3 Juni 2025 hingga akhir Februari 2026. Periode kedua ini jauh lebih masif, menyerap 556,2 juta saham atau setara 1,89%.
Kalau dijumlah, total saham treasuri ADRO sekarang sudah mencapai 598,19 juta lembar. Itu sekitar 2% dari total saham yang beredar. Angka yang cukup besar.
Lalu, apa alasan di balik aksi besar-besaran ini? Manajemen punya penjelasan. Mereka bilang, langkah ini untuk meningkatkan likuiditas perdagangan saham ADRO di pasar. Dengan begitu, harga saham diharapkan bisa lebih mencerminkan kondisi fundamental perusahaan yang sebenarnya.
Selain itu, buyback juga disebut-sebut sebagai bentuk pengembalian yang baik bagi pemegang saham. Tak ketinggalan, kepercayaan investor pun diharapkan ikut naik. Strategi jangka panjang, tentu saja.
Jadi, kita lihat saja nanti bagaimana pasar merespons langkah ADRO kali ini. Rp 5 triliun bukan angka main-main.
Artikel Terkait
OPEC+ Naikkan Kuota Produksi, Namun Gangguan di Selat Hormuz Hambat Realisasi
Indonesia dan Korea Selatan Sepakati Kerja Sama Jasa Instalasi Perairan untuk Ekspansi Migas
Analis Proyeksi Harga Minyak Bisa Tembus USD116 per Barel Pekan Depan
BNI Lepas 99,9% Saham BNI Asset Management ke Danantara Rp359,64 Miliar