Harga Minyak Dunia Melemah Didorong Rumor Perdamaian di Timur Tengah

- Rabu, 01 April 2026 | 07:50 WIB
Harga Minyak Dunia Melemah Didorong Rumor Perdamaian di Timur Tengah

Data dari Dow Jones Newswires menunjukkan betapa dahsyatnya kenaikan itu. WTI melonjak USD43,96 per barel, atau setara dengan 77 persen, sepanjang kuartal. Itu bukan hanya kenaikan terbesar dalam satuan dolar, tapi juga persentase kenaikan tertajam sejak kuartal kedua 2020. Brent pun tak kalah gila, naik 94 persen atau USD57,50 per barel, juga mencetak rekor kenaikan dolar dan persentase tertinggi sejak kuartal ketiga 1990.

"Sekali lagi tekanan besar di pasar muncul setelah pernyataan Presiden Iran. Jika permusuhan segera berakhir, Selat Hormuz dapat dibuka kembali dan pasokan akan kembali ke pasar, sehingga memangkas premi risiko yang selama ini terbentuk dalam harga,"

kata John Kilduff, partner di Again Capital, kepada Reuters.

Faktanya, benchmark minyak internasional sudah empat pekan berturut-turut menguat. Eskalasi perang memicu serangan berantai yang mengganggu infrastruktur energi di Teluk, menciptakan krisis pasokan minyak dan gas terburuk yang pernah tercatat. Survei Reuters mengungkap produksi minyak OPEC anjlok 7,3 juta barel per hari pada Maret, tersungkur ke level 21,57 juta barel per hari terendah sejak puncak pandemi Juni 2020 akibat pemangkasan ekspor paksa.

Sepanjang bulan Maret, pergerakan harga sangat fluktuatif. Setiap kali Trump memberi isyarat akan meredakan operasi militer, harga langsung melemah. Tapi penurunan itu selalu singkat, karena kemudian muncul lagi ancaman Iran terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz. Jalur sempit itu vital, menjadi saluran bagi seperlima pasokan minyak dan gas dunia.

Trump memang mendorong negara lain untuk membantunya membuka selat itu. Tapi negara-negara Eropa, misalnya, tampak enggan. Mereka tak mau terlibat sebelum konflik benar-benar mereda.

Upaya lain seperti pencabutan sanksi terhadap minyak Rusia dan komitmen melepas cadangan minyak strategis bersama beberapa negara, memang sudah dilakukan AS. Sayangnya, langkah-langkah darurat itu efeknya terbatas, hanya mampu menutup kekurangan pasokan untuk sementara waktu. Perang mungkin akan berakhir, tapi pasar minyak dunia masih menyimpan luka yang dalam.

Editor: Raditya Aulia


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar