Harga Minyak Dunia Melemah Didorong Rumor Perdamaian di Timur Tengah

- Rabu, 01 April 2026 | 07:50 WIB
Harga Minyak Dunia Melemah Didorong Rumor Perdamaian di Timur Tengah

Harga minyak dunia akhirnya ambil napas, melemah di penutupan perdagangan Selasa kemarin. Ada secercah harapan, rupanya, yang datang dari rumor perdamaian di Timur Tengah. Sentimen itu cukup kuat untuk menekan harga yang sebelumnya terus meroket.

Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) terpangkas 1,5 persen ke level USD101,38 per barel. Sementara itu, Brent untuk kontrak Juni yang kini paling aktif diperdagangkan anjlok lebih dalam, 2,6 persen menjadi USD104,63. Tapi jangan salah, kontrak Brent untuk pengiriman Mei justru ditutup tinggi di USD118,35 per barel, nyaris sentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir dengan kenaikan harian hampir 5 persen. Pasar jelas masih gamang.

Laporan dari The Wall Street Journal jadi pemicu utama optimisme. Media itu menyebut Presiden AS Donald Trump bersedia menghentikan operasi militernya lebih cepat, bahkan sebelum Selat Hormuz dibuka kembali. Tujuannya sederhana: menghindari perang berkepanjangan. Di sisi lain, Presiden Iran juga menyuarakan keinginan yang sama untuk mengakhiri konflik, meski dengan catatan: negaranya butuh jaminan tertentu.

"Saya pikir pasar minyak akan menentukan akhir dari perang ini,"

kata Peter Cardillo dari Spartan Capital, seperti dikutip Dow Jones Newswires.

"Trump tahu bahwa jika harga minyak naik ke USD125 atau USD130 dan bertahan di level tersebut untuk beberapa waktu, dampaknya akan sangat buruk bagi perekonomian."

Namun begitu, jika melihat perjalanan sepanjang kuartal pertama tahun ini, kondisi pasar masih sangat panas. Kontrak minyak mencatat kenaikan dalam nilai dolar tertinggi sepanjang sejarah. Penyebabnya tak lain adalah perang di Teluk Persia yang hampir memutus total pengiriman lewat Selat Hormuz. Gangguan pasokan ini diperparah dengan serangan-serangan sporadis terhadap kilang dan infrastruktur energi di kawasan itu.

Editor: Raditya Aulia


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar