Konflik di Timur Tengah itu memang bikin kacau. Harga minyak dunia meroket ekstrem, ditambah lagi dengan gangguan pasokan di Selat Hormuz yang jadi jalur vital. Situasinya memang lagi panas.
Faktor lain yang turut mendorong adalah pelemahan nilai tukar rupiah. Meski hanya 0,34 persen, pergerakan kurs dari Rp16.819 ke Rp16.877 per dolar AS ini tetap memberi tekanan tambahan pada komponen hitung-hitungan harga BBM.
Menyikapi hal ini, ekonom Universitas Airlangga, Wisnu Wibowo, melihatnya sebagai sesuatu yang wajar. Menurut dia, mekanisme pasar internasional memang bekerja seperti ini.
“Kenaikan harga BBM nonsubsidi dinilai sebagai konsekuensi logis karena skema penetapannya mengikuti harga pasar internasional,” ujar Wisnu.
Dia memproyeksikan kenaikan harganya nanti tidak akan lebih dari 10 persen. Tapi ya, tetap saja terasa berat di kantong. Pemicu utamanya tetap tiga hal: gejolak geopolitik yang mendongkrak harga minyak mentah dunia, pergerakan harga acuan MOPS Singapura, dan tentu saja, ketidakstabilan nilai rupiah. Gabungan ketiganya menciptakan badai yang sempurna untuk kenaikan harga di pom bensin.
Artikel Terkait
Wall Street Dibayangi Ketegangan Iran, Minyak Melonjak di Atas $115
Pemerintah Targetkan Groundbreaking Rusun Bantaran Rel Senen Mei 2026
Laba Bersih ICBP Melonjak 30% Jadi Rp9,2 Triliun di Tengah Tekanan Biaya
Stok Beras Bulog Tembus Rekor 4,3 Juta Ton, Inflasi Berhasil Dikendalikan