Heboh sudah. Kabar kenaikan harga BBM Pertamina non-subsidi pada awal April mendatang langsung memenuhi percakapan warganet dan grup-grup obrolan. Isunya, kenaikannya bakal signifikan. Sebuah dokumen internal yang beredar Senin lalu, 30 Maret, seolah mengonfirmasi kekhawatiran banyak orang.
Menurut dokumen itu, harga Pertamax bakal melonjak Rp5.550 per liternya. Kalau sekarang masih Rp12.300, maka mulai 1 April 2026 nanti harganya mencapai Rp17.850. Gak cuma itu, varian lain ikut-ikutan naik. Pertamax Green dan Pertamax Turbo, misalnya, diproyeksikan menyentuh angka Rp19.150 per liter.
Untuk bahan bakar jenis solar, kenaikannya lebih curam lagi. Dex dan Dexlite masing-masing akan naik Rp9.450, sehingga harganya berkisar di atas Rp23.000 per liter. Bayangkan saja, hampir menyentuh Rp24.000. Dampaknya ke harga barang dan ongkos kirim pasti terasa.
Lalu, apa penyebabnya? Rupanya, ini bukan sekadar isapan jempol. Kenaikan ini dikaitkan dengan formula harga acuan atau HIP yang meroket. HIP Gasoline RON 92 disebut naik lebih dari 60 persen, sementara HIP Gasoil 250ppm bahkan melonjak di atas 90 persen. Angka-angka yang cukup fantastis.
“Skema harga Gasoline dan Gasoil naik sejalan dengan tren HIP dalam upaya mendukung arahan Pemerintah untuk hemat energi akibat situasi perang US-Israel vs Iran,” begitu bunyi penjelasan dalam dokumen tersebut.
Artikel Terkait
Wall Street Dibayangi Ketegangan Iran, Minyak Melonjak di Atas $115
Pemerintah Targetkan Groundbreaking Rusun Bantaran Rel Senen Mei 2026
Laba Bersih ICBP Melonjak 30% Jadi Rp9,2 Triliun di Tengah Tekanan Biaya
Stok Beras Bulog Tembus Rekor 4,3 Juta Ton, Inflasi Berhasil Dikendalikan