Lebih lanjut Hans menjelaskan, "Kunci kami adalah fokus pada keunggulan operasional dan disiplin pengelolaan keuangan. Dengan cara itu, fundamental perusahaan jadi lebih kuat. Daya saing dan kinerja pun bisa kami pertahankan di tengah persaingan yang ketat, terutama lewat optimalisasi aset dan pengelolaan investasi strategis untuk pertumbuhan jangka panjang."
Pernyataan itu disampaikan melalui keterangan resmi pada Sabtu, 28 Maret 2026.
Memang, data operasional tahun lalu menunjukkan beberapa koreksi. Volume pengupasan lapisan penutup atau overburden removal anjlok 13% jadi 235,4 juta bcm. Volume pengambilan batu bara atau coal getting juga turun 12% ke angka 34,5 juta ton.
Tapi jangan salah, ada cerita yang lebih cerah di paruh kedua tahun. Menurut sejumlah laporan, kinerja operasional justru membaik pada semester II-2025. Di periode ini, volume overburden removal dan coal getting malah naik masing-masing 9,8% dan 19,7% jika dibandingkan dengan capaian di semester pertama.
Peningkatan operasional itu langsung terasa dampaknya pada kondisi keuangan. Di paruh kedua tahun, pendapatan konsolidasian naik 4%, sementara biaya pendapatan justru turun 3,9%. Kombinasi itu menghasilkan pertumbuhan laba kotor yang fantastis: melonjak 142,7% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Ke depan, ABMM tidak hanya berpatokan pada batu bara. Mereka akan terus mendorong inisiatif strategis jangka panjang, dengan mengembangkan sumber pendapatan dari sektor non-batubara. Segmen logistik dan pabrikasi menjadi prioritas, salah satunya lewat pertumbuhan non-organik di bisnis-bisnis yang berdekatan.
Langkah ini diharapkan memperkuat sinergi dalam ekosistem usaha mereka. Visinya jelas: memperkokoh posisi ABM Investama sebagai pemain kunci dalam rantai nilai pertambangan di Indonesia.
Artikel Terkait
Puncak Arus Balik Lebaran, Pertamina Siagakan Ribuan SPBU dan Layanan Darurat
Multivision Plus Gelar Rights Issue Rp280 Miliar untuk Ekspansi Bioskop dan Produksi
Kemenhub Siaga Penuh Antisipasi Puncak Arus Balik 28-29 Maret 2026
IHSG Melemah Tipis, Transaksi Harian Justru Naik 15% Pasca-Lebaran