“Lonjakan laba terutama ditopang pengakuan negative goodwill sebesar Rp4,5 triliun dari akuisisi PT Gayo Mineral Resources. Ini sifatnya one-off,” jelasnya pada Jumat (27/3).
Intinya, ada keuntungan akuntansi besar dari selisih nilai wajar aset yang dibeli. Nilai itu menutupi kerugian dari beberapa pos lain seperti penghapusan piutang.
Namun begitu, kinerja operasional DEWA sebenarnya juga membaik. Core profit-nya naik signifikan menjadi Rp573 miliar, didorong ekspansi margin dan strategi pengerjaan in-house yang lebih efisien. Ke depan, prospeknya masih cerah dengan proyeksi kenaikan core profit hampir 60 persen di tahun 2026.
Dukungan juga datang dari proyek baru dari PT Kaltim Prima Coal, yang merupakan anak usaha dari sister company-nya, BUMI. Volume kontrak tambahan ini diharapkan memberi suntikan kinerja.
Performa dua saham tadi agaknya memberi sedikit warna pada portofolio Grup Bakrie. Saham BUMI sendiri naik tipis, begitu pula BRMS. Meski begitu, tak semua saham grup itu hijau. Beberapa lainnya masih terperangkap di zona merah.
Kondisi pasar secara keseluruhan memang belum bersahabat. IHSG terkoreksi 0,88 persen ke level 7.101, melanjutkan tren turun yang sudah berlangsung beberapa waktu. Banyak yang menyebut kondisi ini sebagai bear market, setelah indeks anjlok lebih dari 20 persen dari puncaknya. Tekanan dari ketidakpastian global dan arus keluar modal asing masih menjadi momok.
Jadi, meski ada cerah sesaat dari ENRG dan DEWA, suasana hati pasar secara umum masih waspada. Investor tentu perlu bijak membaca setiap peluang dan risikonya.
Artikel Terkait
Pemerintah Kurangi Hari Operasional Program Makan Bergizi Gratis demi Efisiensi
Laba Bersih CSRA Melonjak 27,7% Didorong Kenaikan Harga CPO
BEI Hentikan Sementara Perdagangan Saham Multipolar Technology Usai Anjlok 76%
Tambang Nikel Hengjaya di Morowali Dihentikan Sementara Usai Kecelakaan Kerja Tewaskan Pekerja