Harga Minyak Melonjak Lagi Usai Harapan Damai Timur Tengah Meredup

- Jumat, 27 Maret 2026 | 07:20 WIB
Harga Minyak Melonjak Lagi Usai Harapan Damai Timur Tengah Meredup

"Eskalasi militer yang berlanjut, termasuk pengerahan pasukan dan serangan baru, serta pergerakan kapal tanker yang terbatas di bawah syarat ketat Iran, terus menekan pasar energi global," ujar Soojin Kim, seorang analis di MUFG.

Tekanan itu nyata. Perang ini hampir mematikan pengiriman melalui Selat Hormuz jalur vital yang biasa mengangkut seperlima pasokan minyak mentah dan LNG dunia. Badan Energi Internasional (IEA) menyebutnya sebagai gangguan pasokan minyak terbesar sepanjang sejarah. Sejak konflik pecah, harga Brent telah melambung hampir 50 persen, sementara WTI naik 41 persen. Angka yang fantastis.

Isi proposal damai AS yang dikirim via Pakistan pun mulai terkuak. Menurut tiga sumber kabinet Israel, poin-poinnya mencakup penghapusan stok uranium Iran, penghentian pengayaan, pembatasan program rudal, hingga pengurangan pendanaan bagi sekutu regional Iran. Tapi bagi pejabat Iran, syarat itu tidak memenuhi standar minimum. Mereka menegaskan, meski diplomasi masih terbuka, belum ada rencana damai yang realistis di depan mata.

Faktor lain yang memperkeruh situasi datang dari Irak. Produksi minyak mereka dilaporkan menurun karena tangki penyimpanan sudah penuh dan mencapai level kritis. Padahal, Irak adalah produsen terbesar kedua di OPEC setelah Arab Saudi.

Belum lagi masalah di Rusia. Sekitar 40 persen kapasitas ekspor minyak mereka terhenti akibat serangan drone Ukraina dan penyitaan kapal tanker. Salah satu kilang terbesar mereka, Kirishinefteorgsintez, terpaksa menghentikan operasi Kamis lalu setelah serangan memicu kebakaran.

Namun begitu, di balik awan gelap, ada secercah cahaya. Sebuah kapal tanker asal Thailand berhasil melintasi Selat Hormuz setelah ada koordinasi diplomatik dengan Iran. Malaysia juga menyatakan kapal-kapalnya diizinkan melintas. Bahkan, Kedutaan Besar Iran di Spanyol menyebut mereka terbuka terhadap permintaan Madrid, karena Spanyol dianggap menghormati hukum internasional. Ini menjadi konsesi pertama Iran kepada negara Uni Eropa.

Prancis, di sisi lain, sudah mulai bergerak. Mereka menyatakan kepala militernya telah berdiskusi dengan sekitar 35 negara. Tujuannya: mencari mitra dan menyusun proposal untuk misi pembukaan kembali Selat Hormuz, nanti setelah perang usai. Sebuah persiapan untuk hari esok, sementara hari ini masih dipenuhi dentuman.

Editor: Novita Rachma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar