Ekspansi juga terjadi di sektor penyimpanan. Perusahaan mengakuisisi aset gudang dan lahan di Cilegon. Mereka pun membangun tiga tangki bitumen baru dengan total kapasitas 12.000 m³. Proyek strategis lainnya, yaitu pembangunan tangki penyimpanan dan pipa etilena, juga terus didorong dengan menggunakan dana hasil IPO mereka.
Di logistik maritim, pembangunan dua kapal kimia berkapasitas 9.000 DWT terus dilanjutkan. CDIA juga meningkatkan kepemilikan saham di CSI dan MIM hingga 99,99 persen. Sementara di sektor energi, kapasitas pembangkit listrik tenaga surya mereka bertambah menjadi 11 MWp.
Hasil dari semua gebrakan itu terlihat jelas di angka EBITDA. Mereka membukukan USD 118,8 juta, melonjak 288 persen dari posisi USD 30,6 juta di tahun sebelumnya. Kinerja keuangan secara keseluruhan memang sangat kuat.
Total aset perseroan naik 61,4 persen menjadi USD 1,74 miliar. Namun begitu, jumlah liabilitas atau kewajiban juga meningkat 85,1 persen ke angka USD 607,9 juta. Di sisi positif, ekuitas pemegang saham tumbuh 51 persen menjadi USD 1,13 miliar per akhir Desember 2025.
Semua capaian ini menunjukkan betapa agresifnya transformasi dan ekspansi yang dilakukan CDIA. Mereka tak hanya fokus pada satu segmen, tapi membangun kekuatan di berbagai lini bisnis secara simultan.
Artikel Terkait
Petrosea dan Konsorsium Amankan Kontrak Rp989 Miliar untuk Proyek LNG Masela
IHSG Berbalik Merah Usai Dibuka Menguat, Sektor Keuangan dan Industri Jadi Penahan
Victoria Investama Suntik Rp13 Miliar ke Anak Usaha Asuransi lewat Private Placement
Perdagangan Minyak Rp8,45 Triliun dalam 60 Detik Sebelum Trump Umumkan Deeskalasi