Posisi Miran ini punya latar belakang yang menarik. Dia sebelumnya pernah jadi penasihat di era Trump, dan secara konsisten mendorong kebijakan moneter yang lebih longgar sejalan dengan preferensi mantan presiden itu. Tapi tampinya sekarang tak banyak didengar.
Menurut sejumlah saksi, beberapa pejabat The Fed malah mulai membicarakan kemungkinan menaikkan suku bunga di masa depan. Ini semua gara-gara kekhawatiran bahwa lonjakan harga minyak bisa mendongkrak inflasi, yang sudah di atas target 2%, lebih tinggi lagi.
Miran sendiri sudah menyesuaikan proyeksinya. Dari enam kali pemotongan suku bunga tahun ini, dia turunkan jadi empat kali. Dia juga menaikkan perkiraan inflasi. Tapi prinsipnya tetap: guncangan harga minyak tradisinya cuma diabaikan dalam penentuan kebijakan. Hal utama yang dia waspadai adalah apakah kenaikan ini bakal memicu ekspektasi inflasi dan tuntutan kenaikan upah. "Dan itu belum terjadi saat ini," tambahnya.
Jadi, situasinya rumit. Di satu sisi, ada tekanan inflasi dari harga energi. Di sisi lain, ada pasar kerja yang mulai goyah. Stephen Miran jelas memilih untuk fokus pada yang terakhir. Tanyaannya, apakah rekan-rekannya di The Fed akan ikut?
Artikel Terkait
Wall Street Menguat Didorong Pernyataan Trump Soal Iran, Teheran Bantah Klaim Kontak
TOWR Catat Laba Bersih Rp3,68 Triliun di 2025, Tumbuh 10,3%
Tiga Emiten Siap Bagikan Dividen Tunai Rp13,17 Triliun pada April 2026
Pendapatan Paradise Indonesia Melonjak 32,9% Didorong Proyek Ikonik