Sebenarnya, langkah antisipasi sudah diambil. IEA, yang bermarkas di Paris, tak tinggal diam. Awal Maret lalu, mereka melepas sekitar 400 juta barel minyak dari cadangan strategisnya. Tujuannya jelas: meredam gejolak harga dan menenangkan pasar yang sedang panik.
Tak cuma itu, lembaga itu juga mengusulkan agar negara-negara importir mulai menekan permintaan energinya. Dan Birol memberi sinyal: jika gangguan pasokan makin menjadi dalam beberapa pekan ke depan, pelepasan cadangan tambahan masih sangat mungkin dilakukan.
Namun begitu, semua langkah darurat itu ibarat obat pereda. Solusi utamanya tetap satu: membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran normal. Jalur sempit itulah urat nadi pasokan energi global.
"Selama jalur tersebut belum kembali normal, gangguan pasokan akan terus berlangsung,"
tegas Birol.
Jadi, semua mata kini tertuju ke sana. Ke selat yang menjadi penentu stabilitas energi dan mungkin juga ekonomi dunia dalam beberapa bulan mendatang.
Artikel Terkait
Pendapatan Paradise Indonesia Melonjak 32,9% Didorong Proyek Ikonik
Ketegangan AS-Iran Dongkrak Dolar, Pasar Waspadai Inflasi dan Suku Bunga
Harga Emas Antam Turun Rp50 Ribu per Gram Pasca-Lebaran, Galeri24 dan UBS Stabil
Harga Emas Antam Turun Rp50 Ribu per Gram, Galeri24 dan UBS Stabil