Yang cukup mencolok, saham Energi Mega Persada (ENRG) dari Grup Bakrie tercatat sebagai salah satu yang terkoreksi paling dalam, yakni 22,74 persen. Meski MCFF-nya lebih kecil, saham ini tetap memberi tekanan 10,44 poin.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Penurunan tajam ini terjadi di tengah sentimen pasar global yang memang sedang suram. Pada Jumat (13/3) lalu, IHSG merosot 3,05 persen ke level 7.137,21. Transaksi terjadi cukup ramai, dengan lebih dari 650 saham yang harganya melemah. Investor asing pun terlihat konsisten melakukan aksi jual bersih, mencapai Rp1,23 triliun dalam sepekan.
Secara mingguan, kinerja IHSG melemah 5,91 persen. Ini sudah penurunan ketiga berturut-turut. Bahkan dalam sebulan terakhir, indeks kita sudah terdepresiasi lebih dari 13 persen. Situasi yang bikin para investor was-was.
Memang, tekanan global itu nyata. Mayoritas bursa saham Asia ikut melemah, mengikuti koreksi yang terjadi di Wall Street. Dari dalam negeri sendiri, ada kekhawatiran baru. Kenaikan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi menambah beban fiskal pemerintah, apalagi jika harganya melampaui asumsi APBN.
Jadi, gabungan antara sentimen global yang buruk dan tekanan pada saham-saham besar lokal akhirnya membuat IHSG terperosok cukup dalam. Ke depan, pasar masih akan menunggu isyarat dan sinyal positif untuk bisa bangkit kembali.
Perlu diingat, keputusan untuk membeli atau menjual saham sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
Harga CPO Menguat Pekan Kedua Berkat Sentimen Positif Pasar China
IHSG Terkoreksi 3,05%, Analis Prediksi Koreksi Berlanjut ke Level 7.000
Harga Emas Antam Stagnan di Rp2,9 Juta per Gram
IHSG Anjlok 3,05% Jelang Lebaran, Tekanan Global dan Minyak Picu Aksi Jual