Di sisi lain, won Korea tak kalah tertekan. Mata uang itu bahkan sempat menembus level 1.500 won per dolar awal bulan ini. Itu pertama kalinya sejak krisis keuangan global 2009.
Menanggapi hal ini, Menteri Katayama menegaskan kesiapan negaranya.
“Pemerintah Jepang sepenuhnya siap merespons kapan saja, dengan mempertimbangkan dampak pergerakan mata uang terhadap kehidupan masyarakat di tengah lonjakan harga minyak. Saya yakin kedua pihak memiliki pemahaman yang sama mengenai hal tersebut,” ujarnya.
Memang, Katayama kerap menyuarakan kesiapan untuk bertindak. Namun begitu, ada nuansa lain. Beberapa pengambil kebijakan secara privat menganggap upaya menopang yen saat ini mungkin sia-sia. Alasannya sederhana: selama perang terus berlangsung, permintaan terhadap dolar AS diprediksi akan tetap tinggi, sehingga tekanan pada yen sulit dihindari.
Jadi, meski komitmen untuk menjaga stabilitas mata uang sudah dinyatakan, jalan di depan masih dipenuhi ketidakpastian. Semuanya bergantung pada dinamika konflik global dan respons pasar selanjutnya.
Artikel Terkait
Analis Prediksi IHSG Masih Berpotensi Koreksi, Soroti Emiten Potensial
Centrepark Raih Top Brand Award 2026 untuk Kategori Parking Management
Pertamina Geothermal Energy (PGEO) Bidik Bisnis Sewa Alat Tambang
Jalan Tol Bali Mandara Ditutup 32 Jam untuk Nyepi 2026