Tokyo dan Seoul sama-sama waswas. Nilai yen dan won terus merosot, dan kedua pemerintah itu kini bersiap untuk turun tangan jika gejolak di pasar valuta asing dinilai sudah keterlaluan. Pernyataan ini keluar setelah pertemuan tahunan para menteri keuangan kedua negara di ibu kota Jepang.
Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, dan koleganya dari Korea Selatan, Koo Yun-cheol, secara khusus menyoroti pelemahan tajam yang baru-baru ini terjadi. Mereka sepakat untuk mengawasi dengan ketat.
"Selain itu, mereka menegaskan kembali akan memantau secara ketat pasar valuta asing dan terus mengambil tindakan yang tepat terhadap volatilitas berlebihan serta pergerakan nilai tukar yang tidak teratur," bunyi pernyataan bersama mereka, seperti dilaporkan Reuters akhir pekan lalu.
Lantas, apa pemicunya? Ketegangan di Timur Tengah, terutama konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran, membuat para investor berlindung ke dolar AS. Mata uang Amerika itu menguat sebagai 'safe haven'. Nah, situasi ini justru jadi pukulan buat yen dan won. Apalagi kedua negara ini sangat bergantung pada impor minyak, yang harganya pun ikut melonjak.
Yen sendiri sempat menyentuh posisi terendah dalam 20 bulan pada Jumat lalu. Kursnya nyaris mendekati 160 yen per dolar AS sebuah batas psikologis yang bagi banyak pelaku pasar bisa memicu intervensi langsung dari Bank of Japan.
Artikel Terkait
Analis Prediksi IHSG Masih Berpotensi Koreksi, Soroti Emiten Potensial
Centrepark Raih Top Brand Award 2026 untuk Kategori Parking Management
Pertamina Geothermal Energy (PGEO) Bidik Bisnis Sewa Alat Tambang
Jalan Tol Bali Mandara Ditutup 32 Jam untuk Nyepi 2026