Namun begitu, semua ini masih rencana. Perubahan kegiatan usaha itu harus dapat lampu hijau dari para pemegang saham terlebih dahulu. Persetujuan akan dimintakan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang dijadwalkan pada 21 April 2026 mendatang.
Lalu, bagaimana kinerja keuangan PGEO belakangan? Ternyata, di tengah rencana ekspansi ini, perusahaan mencatatkan penurunan laba sepanjang 2025. Labanya anjlok 14,2 persen, menjadi USD137,7 juta dari sebelumnya USD160,49 juta di tahun 2024.
Penyebab utamanya? Beban pokok pendapatan yang melonjak cukup signifikan, yaitu 19,8 persen menjadi USD199,66 juta. Imbasnya, laba bruto ikut terpangkas 3,1 persen dan laba usaha menyusut 2,2 persen.
Meski laba turun, ada secercah cerah dari sisi pendapatan. Angkanya justru naik 6,3 persen menjadi USD432,73 juta, dari sebelumnya USD407,12 juta. Jadi, perusahaannya tetap tumbuh, hanya saja beban operasionalnya yang membesar.
Nah, dengan kondisi keuangan seperti itu, langkah diversifikasi ke bisnis penyewaan alat ini bisa jadi merupakan terobosan untuk menjaga momentum pertumbuhan ke depannya.
Artikel Terkait
Centrepark Raih Top Brand Award 2026 untuk Kategori Parking Management
Jalan Tol Bali Mandara Ditutup 32 Jam untuk Nyepi 2026
Elnusa Siapkan Empat Strategi Dukung Target Satu Juta Barel Minyak per Hari
Investor Asing Masih Melirik Manufaktur Indonesia, Fokus Beralih ke Industri Bernilai Tinggi