Setelah dipotong biaya korporasi yang cukup besar, Rp1,44 triliun, akhirnya GOTO mencatat kerugian operasional Rp378 miliar. Tapi angka ini sudah jauh lebih baik, lho. Dibandingkan 2024 yang rugi operasionalnya mencapai Rp2,24 triliun, berarti terjadi penyusutan fantastis sebesar 83 persen.
Posisi keuangannya secara keseluruhan ternyata masih cukup kuat. Kas dan setara kas mereka tetap solid di level Rp21,76 triliun. Sebagian dari uang itu ditempatkan di deposito, sehingga menghasilkan pendapatan keuangan tambahan sebesar Rp573 miliar sepanjang tahun.
Hingga akhir 2025, total aset GOTO tercatat Rp45,7 triliun, naik sekitar 6 persen. Ekuitasnya mencapai Rp28,7 triliun. Meski begitu, beban masa lalu masih membayangi. Akumulasi kerugian yang mereka tanggung sudah menembus angka yang sulit dibayangkan: Rp215 triliun.
Jalan menuju profitabilitas penuh masih panjang. Tapi setidaknya, trennya mulai mengarah ke sana.
Artikel Terkait
Wall Street Dibayangi Inflasi dan Gejolak Minyak, Pasar Terbelah
ELPI Bagikan Dividen Rp126 Miliar untuk Tahun Buku 2025
DSSA Setujui Stock Split 1:25, Harga Saham Bakal Turun ke Rp3.750
DSSA Lakukan Stock Split 1:25 untuk Perluas Basis Investor