Jadi, posisinya lebih berimbang. Di satu sisi ada beban impor, di sisi lain ada pendapatan ekspor yang bisa menjadi penyangga.
Fondasi Makro Masih Terlihat Kuat
Di balik fluktuasi nilai tukar, sejumlah indikator utama justru menunjukkan ketahanan. Bank Indonesia sendiri menyatakan pelemahan rupiah belum mencerminkan fundamental ekonomi nasional yang sebenarnya masih kuat.
Beberapa sinyal positif itu antara lain inflasi yang tetap terkendali, masih nyaman dalam koridor target 2026-2027. Pertumbuhan kredit perbankan per Januari 2026 juga masih bergerak sehat di angka sekitar 9,96% secara tahunan. Belum lagi catatan pertumbuhan ekonomi 2025 yang mencapai 5,11%, sebuah tanda bahwa aktivitas domestik tetap bergairah.
Dengan sederet data itu, tekanan pada rupiah lebih wajar dilihat sebagai imbas dari dinamika eksternal. Mulai dari dolar AS yang perkasa, sentimen ‘risk-off’ yang mendominasi pasar global, hingga gejolak harga energi dunia.
Kesimpulan David menutup analisisnya. Intinya, langkah rupiah memang perlu diawasi, tapi kepanikan berlebihan tampaknya belum perlu.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Naik Rp8.000, Sentuh Rp3,047 Juta per Gram
Iran Ancam Harga Minyak Bisa Tembus USD200 per Barel
Pasar Saham Asia Bangkit, Minyak Anjlok Usai Komentar Trump Soal Perang Timur Tengah
Menteri Keuangan Tegaskan Harga BBM Subsidi Belum Akan Dinaikkan