Di sisi lain, dinamika politik di Teheran makin mengeraskan situasi. Iran baru saja menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus ayahnya, sang Pemimpin Tertinggi. Langkah ini menegaskan bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali penuh, hanya seminggu setelah pertempuran dengan AS dan Israel pecah.
Konflik yang berkepanjangan ini sudah berimbas serius pada pasokan energi global. Sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam dunia terhambat. Penyebabnya? Teheran menargetkan kapal-kapal di Selat Hormuz jalur vital antara Iran dan Oman dan tak segan menyerang infrastruktur energi di sekitarnya.
Kekhawatiran terbesar datang dari pernyataan Menteri Energi Qatar. Ia memperkirakan semua produsen energi di Teluk akan menghentikan ekspor dalam hitungan minggu.
Jika itu benar-benar terjadi, harganya bisa sangat mahal. Langkah tersebut berpotensi mendorong harga minyak melambung hingga USD150 per barel.
Jadi, situasinya masih sangat fluid. Investor menahan napas, menunggu perkembangan berikutnya sambil berusaha melindungi portofolio mereka di tengah gejolak yang entah kapan berakhir.
Artikel Terkait
IHSG Turun 0,69%, Saham UANG dan NETV Melonjak di Atas 24%
IHSG Ditutup Melemah 0,69% di Tengah Aksi Ambil Untung Luas
Calon Komisioner OJK Targetkan Kapitalisasi BEI Rp25.000 Triliun pada 2031
Harga CPO Menguat Didorong Pelemahan Ringgit dan Sentimen Minyak Nabati