Namun begitu, tidak semua mulus. Adrian Day dari Adrian Day Asset Management mengingatkan bahwa pasar masih sedang mencerna dampak dari perang Iran. Meski demikian, ia yakin pendorong jangka panjang yang sebelumnya mendongkrak emas menembus USD 5.000 akan kembali mendominasi dalam waktu dekat.
Survei tersebut melibatkan 18 analis. Hasilnya? Setelah momentum melemah, hanya separuh dari responden Wall Street yang masih berpandangan bullish. Rinciannya, sembilan analis (50%) memperkirakan kenaikan minggu ini. Empat analis (22%) memprediksi penurunan, sementara lima sisanya (28%) menilai pasar akan bergerak sideways atau konsolidasi.
Bagaimana dengan investor kecil? Jajak pendapat daring Kitco News mencatat 340 suara dari investor ritel. Sentimen mereka kembali ke kisaran rendah 62 persen, level yang bertahan sejak aksi jual besar-besaran awal Februari lalu. Dari jumlah itu, 211 trader (62%) yakin harga akan naik. Sebanyak 56 responden (16%) memprediksi pelemahan, dan 73 investor lainnya (22%) memperkirakan harga cenderung datar.
Nah, pekan ini pergerakan emas akan sangat dipantau seiring dengan ramainya kalender data ekonomi AS. Sejumlah indikator kunci terkait inflasi dan pertumbuhan akan dirilis, memberikan gambaran lebih dalam tentang sektor perumahan dan kondisi konsumen.
Selasa pagi nanti, data penjualan rumah eksisting untuk Februari akan keluar. Lalu, Rabu menjadi hari yang ditunggu dengan rilisnya laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) untuk bulan yang sama. Kamis, perhatian beralih ke data klaim pengangguran mingguan serta laporan housing starts dan izin bangunan untuk Januari.
Puncaknya pada Jumat pagi. Sejumlah data penting bakal membanjiri pasar: pesanan barang tahan lama, estimasi awal PDB kuartal IV, Core PCE, dan data lowongan kerja JOLTS semuanya untuk periode Januari. Tak ketinggalan, survei awal sentimen konsumen Maret dari University of Michigan juga akan dipublikasikan. Pekan yang cukup sibuk, bukan?
Artikel Terkait
IHSG Turun 0,69%, Saham UANG dan NETV Melonjak di Atas 24%
IHSG Ditutup Melemah 0,69% di Tengah Aksi Ambil Untung Luas
Calon Komisioner OJK Targetkan Kapitalisasi BEI Rp25.000 Triliun pada 2031
Harga CPO Menguat Didorong Pelemahan Ringgit dan Sentimen Minyak Nabati