Yang jelas-jelas tertekan adalah sektor energi. ConocoPhillips dan Cheniere Energy anjlok, dan sektor Energi di S&P 500 langsung jadi yang terburuk dengan penurunan 1,8%. Wajar saja, beberapa negara Timur Tengah sudah menghentikan sementara produksi mereka, sementara AS dikabarkan berupaya memperluas kampanye militernya.
Pada pukul 09:56 pagi waktu setempat, papan indeks mencatat pergerakan beragam. Dow Jones sedikit melemah 0,07% ke level 48.467,74. S&P 500 naik tipis 0,12% ke 6.825,22. Nasdaq Composite justru melesat 0,58% ke 22.646,75, didorong oleh saham-saham teknologi.
Investor sekarang juga mempertimbangkan ulang jadwal suku bunga. Ekspektasi potongan suku bunga 25 basis poin, yang sebelumnya diyakini terjadi Juli, kini banyak yang geser ke September. Alasannya? Kekhawatiran biaya energi dan tarif impor AS bisa memicu inflasi lagi.
Secara teknis, S&P 500 masih kuat dengan enam rekor tertinggi baru dalam setahun terakhir. Tapi dia juga cetak dua rekor terendah baru, lho. Nasdaq lebih ekstrem: 34 kali sentuh level tertinggi baru, tapi juga 44 kali catat level terendah baru. Ini menggambarkan volatilitas yang masih tinggi di balik kenaikan indeks.
Jadi, pasar saham sepertinya masih menari di atas ketegangan geopolitik. Setiap kabar, baik itu bisikan damai atau janji stabilisasi, langsung disambut dengan reaksi cepat tapi hati-hati, karena langkah berikutnya masih bisa ke mana saja.
Artikel Terkait
Saham AS Beragam di Tengah Ketegangan Timur Tengah dan Upaya Diplomasi Iran
Wall Street Bergoyang di Tengah Ketegangan Iran dan Sinyal Diplomatik Samar
Saham AS Bergejolak Imbas Ketegangan Iran dan Janji Stabilisasi Energi
Kontak Rahasia Iran-AS dan Janji Trump Pengaruhi Pasar Saham