Laporan dari Jakarta – Di tengah hiruk-pikuk krisis energi global yang memanas, ada perusahaan yang justru melihat peluang. PT GTS Internasional Tbk (GTSI) meyakini situasi genting ini bisa jadi momen emas bagi bisnisnya. Latar belakangnya adalah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, yang dampaknya langsung terasa di pasar energi dunia.
Menurut sejumlah saksi, Iran mulai menutup akses ke Selat Hormuz. Ini bukan jalur sembarangan. Selat itu selama ini jadi urat nadi distribusi minyak global, mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Penutupan ini, tentu saja, langsung mengguncang pasar.
"Aksi pemblokiran rute strategis ini adalah skenario ekstrem yang mengguncang ekonomi dunia. Ratusan kapal kini terpaksa membuang jangkar atau memutar jauh melalui Tanjung Harapan, Afrika Selatan,"
kata Analis Energi dari MST Sydney, Saul Kavonic.
Sentimen panik langsung mendorong harga. Akhir pekan lalu, minyak Brent melesat 2,45 persen ke level USD72,48 per barel. Sementara WTI naik 2,78 persen menjadi USD67,02 per barel. Kekacauan logistik pun tak terhindarkan. Muncul kelangkaan armada pengangkut, sementara permintaan dari negara-negara importir energi di Asia justru melonjak.
Nah, di titik inilah GTSI bergerak. Dalam pernyataan resminya Senin lalu (2/3/2026), manajemen mengaku sedang bersiap menambah kapasitas armada kapalnya. Aksi korporasi ini bukan tanpa alasan. Mereka ingin menangkap peluang dari tarif sewa kapal LNG yang diprediksi bakal melambung tinggi.
Direktur Utama GTSI, Yon Irawan, menegaskan urgensi langkah ini. Ia menyebut situasi pasar energi dunia sedang dalam status 'siaga satu', imbas langsung dari konflik militer tersebut. GTSI, yang berfokus pada transportasi LNG dan penyediaan infrastruktur regasifikasi (FSRU), percaya tambahan kapal baru akan memperbesar kapasitas mereka. Tujuannya jelas: menyerap pesanan distribusi gas yang melimpah dengan tarif angkut yang sedang meroket.
Memang, kebutuhan dunia akan kapal energi yang aman dan siap kerja saat ini jauh melampaui ketersediaannya. Kavonic melihat rencana GTSI ini sebagai langkah krusial.
Artikel Terkait
IHSG Anjlok 2,65% Imbas Ketegangan Iran-Israel, Sektor Energi Melonjak
PJHB Ganti Galangan Kapal Ketiga, Beralih ke TSU karena Harga Lebih Kompetitif
Sido Muncul Catat Laba Bersih Rp1,23 Triliun di 2025 Didorong Ekspor yang Melonjak 31%
KISI Challenge Berakhir, BYD Denza D9 dan Hermès Birkin 25 Diberikan ke Pemenang